Rupiah Pagi Ini Turun 6 Poin ke Rp16.834

Rupiah. Foto: MI/Susanto.

Rupiah Pagi Ini Turun 6 Poin ke Rp16.834

Husen Miftahudin • 13 February 2026 09:49

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penurunan tipis.

Mengutip data Bloomberg, Jumat, 13 Februari 2026, rupiah hingga pukul 09.38 WIB berada di level Rp16.834 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun tipis enam poin atau setara 0,04 persen dari Rp16.828 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.821 per USD. Mata uang Garuda tersebut juga tengah berada di zona merah dengan turun 11 poin atau setara 0,07 persen dari Rp16.810 per USD.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan kembali melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.820 per USD hingga Rp16.850 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca juga: Rupiah Lanjutkan Tren Menguat ke Rp16.786 per USD
 

Ketegangan geopolitik AS-Iran berlanjut


Ibrahim mengungkapkan, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pernyataan Presiden AS Donald Trump setelah pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dimana mereka tidak mencapai kesepakatan pasti tentang negosiasi dengan Iran, tetapi ia menegaskan negosiasi dengan Teheran akan berlanjut.

Trump mempertimbangkan untuk mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah jika kesepakatan tidak tercapai dengan Iran, bahkan ketika Washington dan Teheran bersiap untuk melanjutkan pembicaraan. Para diplomat AS dan Iran mengadakan pembicaraan tidak langsung pekan lalu di Oman. Tanggal dan tempat putaran pembicaraan AS-Iran berikutnya belum diumumkan.

Sementara itu, laporan utama Ketenagakerjaan AS untuk Januari yang tertunda menunjukkan pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan. Nonfarm Payrolls (NFP) naik 130 ribu, mengalahkan ekspektasi pasar sekitar 70 ribu dan berada di atas peningkatan revisi Desember sebesar 48 ribu. Sementara, tingkat pengangguran sedikit menurun menjadi 4,3 persen dari 4,4 persen.

Dari sisi rata-rata pendapatan per jam meningkat sebesar 0,4 persen (mom) pada Januari, meningkat dari 0,1 persen pada sebelumnya dan melampaui perkiraan pasar sebesar 0,3 persen. Sementara laju tahunan tetap stabil di 3,7 persen (yoy), juga melampaui ekspektasi sebesar 3,6 persen.

"Laporan pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat ini mengurangi urgensi untuk pemotongan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat dan dapat memberikan dukungan kepada dolar AS dalam jangka pendek," jelas Ibrahim.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Tekanan fiskal Indonesia semakin terasa 


Di sisi lain, Ibrahim mengungkapkan jika tekanan fiskal Indonesia semakin terasa seiring membengkaknya belanja negara dan besarnya kewajiban pembayaran utang pemerintah, di tengah penerimaan yang belum sepenuhnya pasti.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, belanja negara ditetapkan sebesar Rp3.842,7 triliun. Angka ini melonjak Rp391,3 triliun dibandingkan realisasi belanja 2025 yang mencapai Rp3.451,4 triliun.

Belanja tersebut terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp3.149,7 triliun dan transfer ke daerah Rp693 triliun. Dari total belanja pemerintah pusat, porsi terbesar dialokasikan untuk pembayaran bunga utang yang mencapai sekitar 19 persen. Angka ini belum termasuk cicilan pokok utang pemerintah.

Selain utang, belanja besar juga dialokasikan untuk program makan bergizi gratis melalui Badan Gizi Nasional (BGN) dengan porsi 8,51 persen. Selanjutnya, anggaran Kementerian Pertahanan dan TNI mencapai 5,94 persen serta anggaran Polri sebesar 4,63 persen.

Di sisi lain, upaya mengejar penerimaan negara dinilai tidak mudah. Pemerintah mematok defisit anggaran sebesar Rp 689,14 triliun atau setara 2,68 persen dari produk domestik bruto (PDB).

"Sorotan utama tertuju pada rasio pembayaran pokok dan bunga utang terhadap penerimaan negara atau debt service ratio (DSR). Rasio ini diperkirakan menembus 40 persen, jauh di atas ambang batas aman internasional sekitar 30 persen," terang Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)