Perdagangan saham pada Bursa Saham AS, Wall Street. Foto: Xinhua.
Wall Street Bervariasi: Dow Jones Boncos, Nasdaq Masih Rajin Tebar Cuan
Husen Miftahudin • 19 September 2026 07:08
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat waktu setempat. Investor mengambil jeda setelah pasar mencatat penguatan dalam sesi sebelumnya, sementara kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali memberi tekanan terhadap saham.
Mengutip Investing.com, Sabtu, 19 September 2026, indeks S&P 500 naik tipis 0,1 persen dan berakhir di level 7.643,03. Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi menguat 0,4 persen menjadi 26.522,55. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average melemah 0,2 persen ke posisi 51.680,74.
Sepanjang pekan ini, Nasdaq mencatat kenaikan sebanyak 0,7 persen. Sementara itu, S&P 500 dan Dow Jones masing-masing terkoreksi 0,2 persen dan 1,7 persen.
Perdagangan Jumat berlangsung di tengah fenomena quadruple witching. Peristiwa ini berlangsung empat kali dalam setahun, yakni pada Maret, Juni, September, dan Desember.
Pada periode tersebut, kontrak derivatif yang mencakup indeks saham berjangka, opsi indeks saham, opsi saham, serta kontrak saham berjangka tunggal berakhir secara bersamaan. Kondisi tersebut dapat mendorong perubahan volume dan aktivitas perdagangan di pasar.
Pelaku pasar juga mencermati berbagai perkembangan sepanjang pekan, termasuk perhatian terhadap keamanan kecerdasan buatan (AI) serta keputusan kebijakan moneter Federal Reserve.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: iStock)
Wall Street menanti katalis berikutnya
Setelah keputusan The Fed berlalu, investor kini mencari katalis baru yang dapat mendorong Wall Street kembali mendekati level rekor. Sepanjang September, S&P 500 masih mencatat penurunan hampir 1 persen.
Sentimen pasar sebelumnya tertekan oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, terutama setelah harga minyak naik, data ekonomi AS dirilis, dan pasar obligasi mengalami tekanan.
The Fed pada Rabu memutuskan menaikkan suku bunga dana federal menjadi 3,75 persen sampai 4,00 persen dari sebelumnya 3,50 persen hingga 3,75 persen. Keputusan tersebut diambil secara bulat oleh Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).
Investor juga mencermati Ringkasan Proyeksi Ekonomi terbaru serta pernyataan Ketua Fed Kevin Warsh setelah keputusan suku bunga. Kenaikan suku bunga The Fed turut menjadi perhatian pelaku pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kembali meningkat pada perdagangan Jumat.
Imbal hasil obligasi acuan tersebut naik 5,9 basis poin menjadi 5,006 persen. Sebelumnya, imbal hasil tenor 10 tahun sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari 19 tahun pada awal pekan. Kenaikan imbal hasil obligasi dapat meningkatkan biaya pendanaan dan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor saham ketika menilai prospek pasar.
Dengan keputusan kebijakan The Fed telah berlalu, investor Wall Street kini menunggu faktor baru yang dapat menggerakkan pasar menuju level tertinggi sepanjang masa. Saat ini, S&P 500 masih sekitar dua persen di bawah rekor penutupan sebelumnya.