Rupiah Ditutup di Rp17.796/USD Sore Ini

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Ditutup di Rp17.796/USD Sore Ini

Eko Nordiansyah • 26 May 2026 16:10

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah masih tertekan atas dolar AS sejak pembukaan perdagangan pagi tadi.

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 26 Mei 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.796 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 52 poin atau setara 0,29 persen dari posisi Rp17.744 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp17.783 per USD. Rupiah melemah sebanyak 45 poin atau setara 0,25 persen dari Rp17.738 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.789 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.743 per USD.

Rencana kenaikan suku bunga The Fed

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah disebabkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Gubernur Bank Sentral Amerika Christopher Waller mengatakan, jika ekspektasi inflasi menyimpang dari target, dia tidak akan ragu untuk mendukung kenaikan suku bunga.

"Kemungkinan besar Waller akan sependapat dengan pejabat-pejabat lainnya untuk menaikkan suku bunga," ujar dia.

(Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com/Eko Nordiansyah)

Ketua The Fed Kevin Warsh dinilai berpotensi akan menaikkan suku bunga apabila inflasi masih cukup tinggi, kendati Presiden AS Donald Trump tidak menyerukan penurunan suku bunga dalam kondisi saat ini. Hal ini yang membuat kemungkinan besar suku bunga tetap tinggi hingga akhir 2026.

Pasar tunggu rilis data PDB AS kuartal I

Seiring dengan itu, pasar turut menunggu rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal I-2026, lalu data perumahan, indikator inflasi pilihan The Fed, hingga indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti. Sentimen lain berasal dari optimisme pasar atas kesepakatan perdamaian antara AS dengan Iran, kendati masih terdapat perselisihan terkait Selat Hormuz.

"Kita harus ingat juga, apakah nota kesepakatan ini akan ditandatangani atau tidak, karena yang lebih penting itu adalah tentang masalah uranium. Kemudian yang kedua tentang masalah dana yang dibekukan dari tahun 70-an. Ya, ini pun juga cukup menarik dan saya kemungkinan besar beranggapan bahwa perdamaian ini kemungkinan besar akan gagal total," kata dia.

Adapun sentimen dari internal, menurut dia, masih disebabkan permasalahan defisit anggaran yang menjadi momok oleh pasar.

"Walaupun harga minyak mengalami penurunan, tetapi rupanya masih belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah. Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau, tapi Indonesia memerah," ungkap Ibrahim.

(Eko Nordiansyah)