BI Naikkan Suku Bunga Acuan Demi Stabilitas Rupiah

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. Foto: Dok BI

BI Naikkan Suku Bunga Acuan Demi Stabilitas Rupiah

Insi Nantika Jelita • 26 May 2026 14:30

Jakarta: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan, keputusan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global.

Ia mengatakan, kebijakan tersebut diambil agar instrumen keuangan berbasis rupiah kembali menarik bagi investor dan mampu mendorong aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.

“Kita dorong kenaikan suku bunga karena kita harus membuat instrumen rupiah itu menjadi menarik lagi,” ujar Destry dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Balai Kartini, dikutip Selasa, 26 Mei 2026.

Ia menegaskan, kenaikan BI Rate merupakan langkah penyesuaian terhadap kondisi global dan bukan semata-mata untuk menekan sektor riil.

"Kenaikan BI Rate ini mau enggak mau memang harus dilakukan, bukan karena apa-apa tapi karena menyesuaikan dengan kondisi global,” kata dia.

Fase suku bunga tinggi

Menurutnya, kondisi global saat ini masih berada dalam fase higher for longer, yaitu periode ketika suku bunga diperkirakan tetap tinggi dalam waktu lebih lama. Kondisi ini terlihat dari naiknya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, inflasi AS yang masih meningkat, serta penguatan indeks dolar AS (DXY) terhadap hampir seluruh mata uang dunia.

“Jadi kita menghadapi situasi di mana stabilitas itu menjadi penting,” ucap dia.

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Destry mengatakan, selain menaikkan BI Rate, Bank Indonesia juga telah melakukan berbagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Intervensi dilakukan di pasar spot, pasar forward, pasar Non-Deliverable Forward (NDF), hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) guna menjaga likuiditas dan mengendalikan kenaikan imbal hasil obligasi agar tidak meningkat terlalu tajam. Bank sentral juga memantau tingginya kebutuhan dolar di dalam negeri, termasuk permintaan yang tidak disertai underlying yang jelas.

Fundamental ekonomi Indonesia masih kuat


Destry kemudian menilai fundamental ekonomi Indonesia sejauh ini masih cukup kuat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal I yang mencapai sekitar 5,6 persen, salah satu yang tertinggi di kawasan. Selain itu, indeks kepercayaan konsumen juga mengalami peningkatan dan kinerja penjualan sejumlah korporasi mulai membaik.

“Kalau fundamental kan berarti kita melihat ekonomi di negara itu bagaimana,” ujar dia.

Meski demikian, ia mengakui sentimen global masih menjadi faktor dominan yang menekan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut diperburuk dengan tingginya kebutuhan dolar AS di dalam negeri pada pertengahan tahun, mulai dari pembayaran dividen, repatriasi dana, hingga kebutuhan musim haji.

“Sekarang ini kan ada masalah juga karena ada sentimen, karena adanya di global yang masih terus gonjang-ganjing, yang belum selesai,” kata dia.

Destry optimistis stabilitas rupiah akan kembali membaik seiring fundamental ekonomi domestik yang tetap kuat, selisih imbal hasil yang mulai melebar, serta arah program pemerintah yang semakin jelas ke depan.

“Tentu ini akan memberikan confidence kembali kepada masyarakat dan investor,” kata dia.

(Eko Nordiansyah)