Rupiah Dibuka Naik ke Rp17.695/USD Rabu Pagi

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Dibuka Naik ke Rp17.695/USD Rabu Pagi

Eko Nordiansyah • 26 August 2026 09:10

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan. Rupiah bergerak naik saat dolar AS mengalami tekanan menanti data inflasi dan sinyal The Fed.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 26 Agustus 2026, rupiah berada di level Rp17.695 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 28 poin atau setara 0,16 persen dari Rp17.723 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.699 per USD. Rupiah bergerak menguat dibandingkan pembukaan perdagangan kemarin sebesar Rp17.700 per USD.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Rupiah fluktuatif cenderung melemah

Analis pasar mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pada Kamis ini akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah. Mata uang Garuda diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp17.730 hingga Rp17.750 per dolar AS.

Ibrahim menjelaskan, pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal terkait langkah AS yang akan memerluas sanksi ekonomi terhadap Iran. Langkah ini dinilai meredakan kekhawatiran gangguan pasokan minyak.

"Langkah tersebut menurut para analis telah meredakan kekhawatiran mengenai ancaman terhadap pasokan minyak Timur Tengah akibat perang," ujar Ibrahim.

Di sisi lain, investor juga mencermati rilis data inflasi AS dan pidato pertama Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole. Kondisi inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ekspektasi akan kebijakan The Fed yang lebih longgar.

Dari dalam negeri, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menjadi perhatian. Fitch Ratings menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar enam persen pada 2027 lebih realistis dibandingkan target delapan persen dalam jangka menengah. 

Ibrahim menyebut, terdapat sejumlah risiko yang dapat mempengaruhi prospek ekonomi Indonesia antara lain ketidakpastian geopolitik, meningkatnya harga minyak dunia, serta perlambatan tajam ekonomi negara-negara mitra dagang utama Indonesia. 

(Eko Nordiansyah)