Mengenal Sejarah dan Ragam Batik Nusantara di Museum Batik Indonesia

Museum Batik Indonesia, Foto: MTVN/Siti Nahdia Usman

Mengenal Sejarah dan Ragam Batik Nusantara di Museum Batik Indonesia

Putri Purnama Sari • 2 October 2026 10:39

Jakarta: Hari Batik Nasional diperingati setiap 2 Oktober. Peringatan ini menjadi momentum untuk mengenang sekaligus melestarikan batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan seni.

Batik menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia. Setiap motif, titik, dan garis pada kain batik tidak hanya menghadirkan nilai keindahan, tetapi juga menyimpan sejarah, filosofi, serta nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu tempat untuk mengenal perjalanan panjang batik Indonesia adalah Museum Batik Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Museum ini memiliki tujuan mengumpulkan, mengkaji, menyajikan, dan melestarikan batik Indonesia sebagai warisan budaya bangsa.

Museum Batik Indonesia juga menjadi ruang edukasi, inspirasi, dan rekreasi bagi masyarakat yang ingin mengenal batik lebih jauh. Berbagai koleksi di dalamnya menggambarkan perkembangan batik dari masa ke masa.

Makna Istilah Batik

Istilah batik berasal dari kata "amba" dan "titik". Dalam bahasa Jawa, amba berarti menulis atau menggambar, sedangkan titik atau nitik berarti membuat titik.

Istilah tersebut berkaitan dengan proses pembuatan batik yang menggunakan malam atau lilin panas sebagai perintang warna. Perajin mengaplikasikan malam menggunakan canting di atas kain putih atau mori sehingga membentuk rangkaian titik dan garis yang kemudian menjadi motif.

Istilah batik, hambatik, dan ambatik tercatat dalam Babad Sengkala yang ditulis pada 1673 serta Hikayat Panji Jaya Lengkara pada 1770.

Penggunaan istilah batik juga tercatat dalam laporan Chastelein kepada Gubernur Belanda Rijcklof Van Goens pada 1705. Dalam laporan tersebut, Chastelein menggunakan istilah batex atau batik.

Batik Indonesia Diakui sebagai Warisan Budaya Dunia

Batik Indonesia memperoleh pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda pada 2 Oktober 2009. Pengakuan tersebut diberikan dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah tentang Warisan Budaya Tak Benda di Abu Dhabi.

UNESCO memasukkan batik Indonesia ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Pengakuan tersebut diberikan dengan mempertimbangkan kekayaan simbol dan makna filosofis yang terdapat dalam batik, sekaligus peran batik dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Tanggal pengakuan UNESCO tersebut kemudian menjadi dasar penetapan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Setiap tahunnya, peringatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan apresiasi sekaligus kesadaran masyarakat terhadap batik Indonesia.

Perkembangan Batik dan Pengaruh Berbagai Budaya

Sebagai wilayah yang sejak dahulu menjadi jalur perdagangan, perkembangan batik Indonesia tidak terlepas dari pertemuan berbagai kebudayaan.

Interaksi tersebut turut melahirkan beragam motif, warna, bentuk, dan teknik batik. Beberapa perkembangan batik bahkan menunjukkan pengaruh kuat dari budaya Eropa, Jepang, dan Cina.

1. Batik Belanda

Batik Belanda berkembang melalui karya perempuan Belanda yang tinggal di Nusantara sekitar 1840-1940. Motifnya banyak menampilkan rangkaian bunga berbentuk buket, bangau, angsa, dan kupu-kupu. Carolina Josephine von Franquemont menjadi salah satu tokoh dalam perkembangan batik ini.

Pada 1840, ia mendirikan perusahaan batik pertamanya di Surabaya. Ia juga dikenal melalui penggunaan warna hijau berbahan tumbuhan yang tahan luntur dan kemudian dikenal sebagai hijau prankemon.

Tokoh lain yang menjadi pelopor perkembangan Batik Belanda antara lain Catharina Carolina van Oosterom dengan batik panastroman, L. Metzelaar dengan batik naratif, serta Van Zuylen bersaudara dengan motif buketan dan warna pastel.

Batik Belanda berkembang di sejumlah wilayah seperti Pekalongan, Semarang, Ungaran, Banyumas, Pacitan, Surakarta, dan Yogyakarta.

2. Batik Djawa Hokokai

Kehadiran Jepang di Indonesia pada 1942-1945 turut memengaruhi perkembangan batik, terutama di wilayah pesisir utara Jawa Tengah.

Batik Djawa Hokokai mulai berkembang pada 1942. Nama tersebut mengikuti organisasi propaganda Jepang. Batik ini memiliki ciri berupa detail yang sangat rumit. Pembuatnya juga menggabungkan unsur pagi-sore, terang bulan, dan tanahan Semarangan.

3. Batik Pengaruh Cina

Pengaruh budaya Cina terlihat terutama pada perkembangan batik di kota-kota pesisir utara Jawa. Bentuk kainnya antara lain kain panjang, sarung, selendang, dan kain gendongan. Batik juga digunakan sebagai penutup altar dan kain untuk menyimpan abu leluhur.

Motifnya mendapat pengaruh dari sulaman Cina dan porselen. Beberapa motif yang muncul antara lain banji atau wanzhi, swastika, burung Hong, bangau, merak, burung kecil, ayam, kupu-kupu, menjangan, kilin, naga, teratai, seruni, dan anyelir.

Batik Kraton hingga Batik Pesisir


Museum Batik Indonesia, Foto: MTVN/Siti Nahdia Usman 

Selain mendapat pengaruh dari berbagai kebudayaan, perkembangan batik di Indonesia juga melahirkan karakter yang berbeda berdasarkan lingkungan masyarakat tempat batik tersebut berkembang. Berikut beberapa di antaranya:

1. Batik Kraton Cirebon

Batik Cirebon pada awalnya digunakan oleh raja, terutama untuk upacara keagamaan, penghias istana, dan perlindungan dari berbagai hal buruk. Motifnya memiliki simbol dan makna kosmologis, seperti wadhasan, pohon, singa, binatang mitologi, dan Mega Mendung.

Cirebon juga pernah menjadi pelabuhan penting dan jalur perdagangan yang mempertemukan pedagang dari India, Arab, Persia, dan Eropa. Pertemuan tersebut turut memengaruhi perkembangan motif batik Cirebon.

Salah satunya adalah motif Mega Mendung yang mendapat pengaruh budaya Cina, khususnya seni lukis awan.

2. Batik Kraton Surakarta

Batik kraton Surakarta berkembang setelah terjadinya pemisahan aspek budaya antara Yogyakarta dan Surakarta.

Pembagian berbagai harta kerajaan menyebabkan batik dan pakaian kerajaan berpindah ke Yogyakarta. Kondisi tersebut kemudian mendorong Surakarta mengembangkan motif yang memiliki ciri khas sendiri.

Pada saat itu, Pakubuwono III memerintahkan pembuatan motif baru karena Surakarta belum memiliki pola khas kraton. Para pembatik kemudian menciptakan berbagai motif yang selanjutnya diatur penggunaannya di lingkungan kraton.

Salah satu motif batik yang terkenal adalah batik truntum yang diciptakan oleh Ratu Kencana, permaisuri Pakubuwono II.

3. Batik Kraton Yogyakarta

Membatik menjadi salah satu kegiatan para putri raja di Kraton Yogyakarta. Kegiatan ini tidak hanya membutuhkan keterampilan tangan, tetapi juga ketelitian, kesabaran, ketahanan, dan kemampuan memusatkan pikiran.

Melalui proses tersebut, para pembatik menghasilkan berbagai motif, warna, dan makna. Batik Yogyakarta juga tetap mengikuti aturan yang diwariskan secara turun-temurun.

Sejumlah motif memiliki aturan penggunaan tertentu. Motif parang, misalnya, termasuk motif yang penggunaannya pernah diatur oleh Sultan Hamengkubuwono VIII. Batik Yogyakarta merupakan batik Mataram yang dibawa ke lingkungan kraton Yogyakarta untuk dipertahankan dan dilestarikan.

4. Batik Pekalongan

Pekalongan menjadi salah satu kota tua dalam perkembangan batik Indonesia. Berdasarkan sejarah yang disajikan Museum Batik Indonesia, batik telah berkembang di Pekalongan sejak sekitar 1800.

Sebagai batik pesisir, batik Pekalongan memiliki warna dan motif yang beragam. Pengaruh Cina, Arab, dan Belanda terlihat dalam perkembangannya.

Salah satu motif batik yang terkenal dari Pekalongan adalah motif Jlamprang. Motif ini dipengaruhi oleh kain Patola asal India yang dibawa para pedagang Gujarat pada masa lalu.

5. Batik Lasem

Lasem berkembang sebagai wilayah pesisir yang menerima berbagai pengaruh budaya. Masyarakat Jawa, Cina, Arab, Belanda, dan Champa, serta tradisi Buddha, Hindu, dan Islam turut membentuk keragaman budaya di wilayah tersebut.

Salah satu ciri khas batik Lasem adalah warna merah terang yang dikenal sebagai merah darah ayam. Perajin membuat warna tersebut menggunakan akar mengkudu dan akar jeruk yang dilarutkan dalam air dengan kandungan mineral.

Lasem juga dikenal melalui Batik Tiga Negeri. Proses pembuatannya menghasilkan perpaduan warna yang berasal dari beberapa pusat batik, yaitu sogan dari Solo dan biru dari Pekalongan.

Cara Melestarikan Batik Indonesia

Seiring perkembangan zaman, fungsi batik semakin beragam. Masyarakat tidak hanya menggunakannya sebagai busana atau perlengkapan upacara, tetapi juga sebagai perlengkapan rumah tangga, benda dekoratif, dan berbagai atribut lainnya.

Keragaman tersebut menunjukkan bahwa batik Indonesia tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga merekam perjalanan sejarah dan pertemuan berbagai budaya di Nusantara.

Karena itu, Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober dapat menjadi momentum untuk kembali mengenal, menggunakan, dan melestarikan batik Indonesia.

Upaya tersebut penting dilakukan agar pengetahuan, keterampilan, filosofi, serta keberagaman batik dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

(Siti Nahdia Usman)

(Putri Purnama Sari)