Profil AH Nasution, Jenderal yang Selamat dari Peristiwa G30S/PKI

AH Nasution, dok: Instagram @official_jendralnasution

Profil AH Nasution, Jenderal yang Selamat dari Peristiwa G30S/PKI

Putri Purnama Sari • 30 September 2026 16:30

Jakarta: Abdul Haris Nasution atau A.H. Nasution merupakan salah satu tokoh militer penting dalam sejarah Indonesia. Ia terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kemudian memegang sejumlah posisi penting di tubuh militer Indonesia.

A.H. Nasution juga menjadi salah satu tokoh yang mengalami berbagai fase penting dalam sejarah Indonesia, mulai dari masa perjuangan kemerdekaan, pemerintahan Presiden Soekarno, pemerintahan Presiden Soeharto, hingga masa awal Reformasi.

Namanya semakin lekat dengan sejarah Indonesia setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S. Nasution menjadi salah satu sasaran penculikan, tetapi berhasil menyelamatkan diri. Dalam peristiwa tersebut, putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, serta ajudannya, Pierre Tendean, menjadi korban.

Profil A.H. Nasution


AH Nasution, dok: Instagram @official_jendralnasution

A.H. Nasution lahir di Hutapungkut, Mandailing, Sumatra Utara, pada 3 Desember 1918. Ia berasal dari keluarga Batak Muslim dan merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara sekaligus putra tertua dalam keluarganya.

Nasution kemudian meniti karier di bidang militer dan menjadi salah satu perwira penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Ia pernah memimpin Divisi Siliwangi dan kemudian menduduki posisi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Pada 7 November 1955, Presiden Soekarno melantik Nasution sebagai KSAD.

Nasution juga dikenal melalui pemikiran militernya, termasuk konsep perang gerilya yang kemudian berpengaruh dalam sejarah militer Indonesia.

A.H. Nasution dalam Peristiwa G30S

Nama A.H. Nasution tidak dapat dipisahkan dari peristiwa G30S pada 30 September-1 Oktober 1965. Saat itu, sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat menjadi sasaran penculikan.

Nasution juga menjadi salah satu target. Namun, ia berhasil meloloskan diri dari rumahnya di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Pasukan yang datang ke rumah Nasution merupakan bagian dari pasukan yang bertugas dalam operasi penculikan tersebut.

Dalam peristiwa itu, sejumlah perwira Angkatan Darat dan ajudan Nasution, Pierre Tendean, tewas. Nasution sendiri berhasil menyelamatkan diri, tetapi putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, tertembak dan kemudian meninggal dunia.

Peran Johanna Sunarti dan Pierre Tendean

Keselamatan Nasution tidak terlepas dari situasi di rumahnya saat pasukan datang pada dini hari. Istrinya, Johanna Sunarti, berada di rumah ketika pasukan mendatangi kediaman mereka. Nasution kemudian berhasil keluar dari rumah dan menyelamatkan diri.

Sementara itu, ajudannya, Pierre Tendean, menjadi salah satu korban dalam peristiwa tersebut. Tendean kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya bersama para perwira Angkatan Darat lainnya.

Nasution kemudian harus menghadapi kehilangan besar setelah Ade Irma Suryani dan Pierre Tendean menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

Pandangan A.H. Nasution terhadap G30S

Setelah peristiwa G30S, Nasution menjadi salah satu tokoh militer yang berperan dalam membangun narasi resmi mengenai peristiwa tersebut.

Buku 40 Hari Kegagalan 'G30S' yang terbit pada Desember 1965 dibuat atas prakarsa Nasution. Buku tersebut telah menyinggung keterlibatan PKI dalam percobaan kudeta, meskipun kajian mengenai siapa yang paling bertanggung jawab atas G30S kemudian berkembang dalam berbagai versi historiografi.

Sejumlah kajian sejarah kemudian menawarkan interpretasi berbeda mengenai G30S. Ada yang menekankan keterlibatan PKI, konflik internal Angkatan Darat, maupun keterkaitan sejumlah tokoh dan kelompok politik lainnya. Karena itu, pembahasan mengenai dalang G30S menjadi salah satu bagian sejarah Indonesia yang terus dikaji oleh para sejarawan.

Akhir Hayat A.H. Nasution

Setelah melewati berbagai fase politik dan militer Indonesia, A.H. Nasution tetap menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah nasional.

Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang mengalami langsung perubahan politik Indonesia dari masa perjuangan kemerdekaan, pemerintahan Soekarno, Orde Baru di bawah Soeharto, hingga periode Reformasi.

A.H. Nasution meninggal dunia pada 6 September 2000 di Jakarta dalam usia 81 tahun. Ia kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

(Putri Purnama Sari)