Seseorang tengah berjalan di depan gedung Bank of Japan. Foto: Xinhua/Zhang Xiaoyu.
Ekonomi Jepang Melambat, BOJ Diperkirakan Naikkan Suku Bunga
Husen Miftahudin • 13 October 2026 14:50
Jakarta: Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memperkirakan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) akan menaikkan suku bunga secara bertahap menuju tingkat netral. Kebijakan tersebut diperkirakan tetap berlanjut meskipun pertumbuhan ekonomi Jepang melambat, sejalan dengan langkah bank sentral negara lain yang menghadapi tekanan inflasi.
Melansir Channel News Asia, Selasa, 13 Oktober 2026, laporan World Economic Outlook IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jepang melambat menjadi 0,7 persen pada 2026. Dukungan fiskal pemerintah diperkirakan dapat meredam sebagian dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian.
"Pertumbuhan di Jepang diproyeksikan melambat menjadi 0,7 persen pada 2026, dengan langkah-langkah dukungan fiskal yang sebagian meredam dampak kenaikan harga energi, dan stabil pada tingkat tersebut pada 2027 seiring meredanya guncangan energi dan kebijakan moneter yang secara bertahap kembali normal," kata IMF dalam laporan World Economic Outlook.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang pada 2026 tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan sebesar 1,2 persen pada tahun sebelumnya. IMF juga memperkirakan ekonomi Jepang tumbuh 0,7 persen pada 2027.
Melansir Channel News Asia, Selasa, 13 Oktober 2026, laporan World Economic Outlook IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jepang melambat menjadi 0,7 persen pada 2026. Dukungan fiskal pemerintah diperkirakan dapat meredam sebagian dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian.
"Pertumbuhan di Jepang diproyeksikan melambat menjadi 0,7 persen pada 2026, dengan langkah-langkah dukungan fiskal yang sebagian meredam dampak kenaikan harga energi, dan stabil pada tingkat tersebut pada 2027 seiring meredanya guncangan energi dan kebijakan moneter yang secara bertahap kembali normal," kata IMF dalam laporan World Economic Outlook.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang pada 2026 tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan sebesar 1,2 persen pada tahun sebelumnya. IMF juga memperkirakan ekonomi Jepang tumbuh 0,7 persen pada 2027.
BOJ diperkirakan naikkan suku bunga bertahap
BOJ menaikkan suku bunga menjadi 1,25 persen pada September 2026, level tertinggi dalam 31 tahun. Bank sentral Jepang tersebut juga mengisyaratkan kesiapannya untuk melanjutkan pengetatan kebijakan moneter guna mengantisipasi risiko inflasi yang melampaui target 2 persen.
Jepang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan bakar dan bahan baku. Kondisi tersebut membuat perekonomian negara itu rentan terhadap dampak inflasi akibat guncangan harga energi dan pelemahan nilai tukar yen.
IMF menyatakan kebijakan moneter dapat mengabaikan dampak langsung dan tidak langsung jangka pendek dari suatu guncangan terhadap inflasi, tetapi hanya jika guncangan tersebut bersifat sementara.
"Bahkan ketika mengabaikan guncangan tersebut dinilai tepat, bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga nominal jika ekspektasi inflasi meningkat, guna menjaga biaya pinjaman riil tetap stabil," demikian penjelasan IMF dalam laporan tersebut.
Pernyataan itu menunjukkan bank sentral perlu mempertimbangkan perkembangan ekspektasi inflasi dalam menentukan arah kebijakan suku bunga, termasuk ketika tekanan harga berasal dari kenaikan harga energi.

(Ilustrasi ekonomi Jepang. Foto: Freepik)
IMF soroti volatilitas nilai tukar di Asia
Dalam laporan yang sama, IMF juga menyoroti tingginya volatilitas nilai tukar, terutama di kawasan Asia. Kondisi tersebut telah mendorong sejumlah negara melakukan intervensi, termasuk operasi bersama Jepang dan Amerika Serikat untuk menopang nilai tukar yen yang melemah.
"Menjaga penyesuaian yang tertib dan stabilitas keuangan sangat penting ketika guncangan besar sedang berlangsung," kata IMF.
IMF menilai perekonomian perlu membiarkan nilai tukar bergerak secara fleksibel untuk menyerap guncangan eksternal. Namun, intervensi valuta asing dapat menjadi pilihan ketika pergerakan pasar berlangsung tidak teratur.
"Ketika depresiasi mata uang memperkuat dirinya sendiri, likuiditas pasar menghilang, atau pergerakan mata uang mengancam stabilitas harga melalui transmisi dampak yang besar atau tekanan pada neraca keuangan, intervensi valuta asing sementara dapat dipertimbangkan," demikian pernyataan IMF.
Dengan demikian, IMF menekankan pentingnya menjaga stabilitas keuangan dan mengelola tekanan nilai tukar tanpa mengabaikan peran fleksibilitas kurs dalam menyerap guncangan eksternal. (Selsha Septifanie Gunawan)