Masyarakat Dinilai Perlu Diedukasi Bahaya Mendekati Karhutla

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Foto: Dok. Antara.

Masyarakat Dinilai Perlu Diedukasi Bahaya Mendekati Karhutla

Fachri Audhia Hafiez • 20 October 2026 00:00

Jakarta: Edukasi bagi masyarakat guna menghindari area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai penting. Hal ini demi mencegah jatuhnya korban jiwa.

“Masyarakat perlu mendapatkan edukasi agar tidak memasuki area kebakaran yang berbahaya tanpa kemampuan dan perlindungan yang sesuai,” ujar anggota Komisi IV DPR Daniel Johan dikutip melalui keterangan tertulis, Senin, 19 Oktober 2026.
 


Pernyataan tersebut disampaikan Daniel menyusul tragedi Karhutla yang kembali menelan korban jiwa, baik di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, maupun di Kalimantan. Insiden di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sebelumnya menewaskan empat petugas dan relawan yang terdiri atas dua relawan Menggala Api dan dua petugas Balai Besar TNBTS (BB TNBTS) akibat terjebak kobaran api di tengah medan yang sulit.

“Kita kembali berduka atas hilangnya nyawa para petugas dan relawan akibat kebakaran hutan dan lahan, termasuk yang baru terjadi beberapa hari lalu di kawasan Bromo. Kami turut merasakan kesedihan keluarga yang ditinggalkan,” kata Daniel.


Kobaran api yang muncul di Blok Bantengan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Senin, 3 Agustus 2026. Foto: ANTARA/HO-Balai Besar TNBTS

Selain di Bromo, karhutla juga merenggut nyawa seorang warga lanjut usia bernama LJ, 60, di Samarinda, Kalimantan Timur, yang berupaya memadamkan api secara mandiri untuk melindungi permukiman, serta seorang balita yang diduga mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap pekat.

Daniel menilai, inisiatif warga untuk membantu memadamkan api lahir dari kepedulian lingkungan. Namun hal tersebut sangat berbahaya jika dilakukan tanpa pelatihan, perlengkapan pelindung, dan peralatan yang memadai.

“Ketika api membesar atau bergerak tidak terkendali, prioritas utama adalah menyelamatkan diri, menjauh dari jalur rambatan api, dan segera menghubungi petugas,” papar Daniel.

Lebih lanjut, Daniel mendorong Kementerian Kehutanan bersama pengelola kawasan untuk meninjau kembali penugasan pada sektor berisiko tinggi dan memperketat standar keselamatan operasi. Sekaligus memastikan manajemen risiko dan jalur evakuasi yang jelas bagi setiap tim di lapangan.

(Fachri Audhia Hafiez)