Meski Tergelincir, Emas Diyakini Masih Kuat 'Berlari Kencang'

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Meski Tergelincir, Emas Diyakini Masih Kuat 'Berlari Kencang'

Husen Miftahudin • 14 January 2026 10:45

Jakarta: Harga emas (XAU/USD) dunia diperkirakan masih bergerak menguat pada perdagangan hari ini, meskipun sempat mengalami koreksi tipis pada sesi sebelumnya. Emas tercatat berada di level USD4.590 atau turun 0,15 persen pada Selasa (13/1), setelah sempat mencetak rekor tertinggi di USD4.634. Koreksi tersebut terjadi menyusul rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan tekanan harga masih stabil.

Analis Dupoin Futures Andy Nugraha menilai pelemahan yang terjadi masih tergolong wajar dan belum mengubah arah tren utama emas. Berdasarkan analisis teknikal yang mengombinasikan pola candlestick dan indikator Moving Average, pergerakan harga emas saat ini masih menunjukkan penguatan tren bullish.

"Struktur harga yang terbentuk mencerminkan dominasi minat beli, seiring sentimen global yang masih mendukung aset lindung nilai seperti emas," ungkap Andy dalam analisis hariannya, Rabu, 14 Januari 2026.

Menurut Andy, selama harga emas mampu bertahan di atas area support terdekat, peluang kenaikan lanjutan masih terbuka. Ia memproyeksikan jika tekanan bullish berlanjut, XAU/USD berpotensi menguat hingga mendekati level USD 4.650 pada perdagangan hari ini.

"Level tersebut dinilai sebagai target kenaikan terdekat yang cukup relevan secara teknikal," tegas dia.

Namun, ia juga mengingatkan jika harga gagal melanjutkan penguatan dan terjadi aksi ambil untung, maka koreksi jangka pendek berpeluang membawa emas turun menuju area support di sekitar USD 4.565.
 

Baca juga: Aksi Ambil Untung Investor Bikin Harga Emas Dunia Melempem


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Data inflasi AS dorong Fed pangkas suku bunga


Dari sisi fundamental, harga emas kembali mendapatkan dukungan pada awal sesi Asia Rabu, dengan pergerakan naik ke kisaran USD4.600. Penguatan ini didorong oleh meningkatnya keyakinan pelaku pasar terhadap kemungkinan penurunan suku bunga AS, menyusul rilis data inflasi yang cenderung lebih rendah dari ekspektasi.

Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS menunjukkan inflasi inti hanya naik 0,2 persen secara bulanan, lebih rendah dari proyeksi 0,3 persen, dan stabil secara tahunan di level 2,6 persen.

Kondisi tersebut memperkuat pandangan The Fed dapat melanjutkan kebijakan pelonggaran moneternya tahun ini. Suku bunga yang lebih rendah umumnya mengurangi biaya peluang dalam memegang emas, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik global juga menjadi faktor pendukung, di tengah meningkatnya ketegangan internasional dan risiko politik yang mendorong investor mencari aset aman.

Meski demikian, penguatan dolar AS masih menjadi salah satu faktor yang menahan laju kenaikan emas. Indeks dolar AS tercatat menguat ke level 99,15, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun justru mengalami penurunan ke sekitar 4,17 persen.

Pasar kini menanti rilis data Penjualan Ritel dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS, yang dinilai dapat memberikan petunjuk lanjutan terkait arah kebijakan suku bunga.

"Selama sentimen suku bunga dan risiko global tetap mendukung, pergerakan emas hari ini masih cenderung positif dengan peluang mempertahankan tren bullish," tutur Andy.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)