Wamenkeu Juda Agung dalam peluncuran ETF Emas di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Foto: Tangkapan layar siaran YouTube OJK.
Wamenkeu Pastikan Underlying ETF Emas Berupa Emas Fisik
Husen Miftahudin • 10 August 2026 14:07
Jakarta: Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung memastikan instrumen Exchange Traded Fund (ETF) Emas yang diluncurkan di pasar modal Indonesia memiliki underlying atau aset dasar yang jelas berupa emas fisik.
Juda menekankan kepastian keberadaan emas fisik menjadi salah satu aspek penting untuk membangun kepercayaan investor terhadap instrumen tersebut.
"ETF Emas adalah produk keuangan. Namun di balik produk tersebut terdapat underlying berupa emas, emas real. Karena itu investor harus percaya bahwa emasnya ada," ujar Juda dalam peluncuran ETF Emas di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, dikutip dari Antara, Senin, 10 Agustus 2026.
Juda menilai peluncuran ETF Emas menjadi salah satu langkah untuk memperdalam pasar modal Indonesia sekaligus memperluas pilihan instrumen investasi bagi masyarakat.
Pengembangan instrumen tersebut juga sejalan dengan agenda reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Self-Regulatory Organization (SRO), dan para pemangku kepentingan lainnya.
"Peluncuran ETF Emas hari ini juga merupakan salah satu langkah konkret dan bagian dari agenda tersebut," kata Juda.
Menurut Juda, perkembangan ETF Emas di pasar global menunjukkan semakin pentingnya instrumen tersebut dalam ekosistem investasi. Pada 2025, aset kelolaan ETF Emas global mencapai USD559 miliar, dengan kepemilikan emas mencapai 4.025 ton.
"Ini mencerminkan semakin pentingnya instrumen ini di dalam ekosistem investasi global. Jadi, yang kita lakukan hari ini bukan sekadar menambah satu produk. Kita sedang memperluas pilihan investasi sekaligus memperdalam pasar keuangan kita agar dapat bersaing dengan pasar modal regional maupun global," ujar Juda.
Pesan pemerintah kembangkan ETF Emas
Dalam peluncuran tersebut, Juda menyampaikan tiga hal yang perlu menjadi perhatian dalam pengembangan ETF Emas. Pertama, pasar modal Indonesia perlu terus diperdalam. Kedua, ETF Emas perlu menjadi bagian dari penguatan ekosistem emas nasional. Ketiga, inovasi di pasar keuangan harus berjalan seiring dengan integritas.
"Pasar bulion akan dapat terus berkembang, pasar modal akan juga semakin dalam. Pada akhirnya masyarakat akan bisa memperoleh alternatif investasi yang semakin beragam yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhannya dan meningkatkan kesejahteraannya," kata Juda.
Juda juga mengingatkan pengembangan ETF Emas perlu disertai penguatan tata kelola, akuntabilitas, transparansi, perlindungan investor, dan pengawasan. "Tantangan kita berikutnya bukan hanya membuat pasar semakin besar, tetapi membuatnya semakin dalam dan semakin dipercaya," ujarnya.
Sebelumnya, OJK bersama SRO resmi meluncurkan instrumen ETF Emas pada Senin, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Pasar Modal Indonesia. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan peluncuran tersebut menjadi bagian dari pengembangan pasar bulion di Indonesia.
"Saat ini kita sudah siap untuk meluncurkan ETF Emas di Indonesia. Ini juga menandai perluasan pasar bulion sebagai quick win dalam delapan rencana aksi, yaitu pendalaman pasar secara terintegrasi melalui ETF Emas," ujar Friderica.
Peluncuran ETF Emas menjadi salah satu bagian dari upaya memperluas integrasi antara pasar modal dan ekosistem bulion nasional.
.jpg)
(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Perkuat ekosistem bulion
Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Samsul Hidayat berharap ETF Emas dapat menjadi alternatif instrumen investasi bagi investor di pasar modal Indonesia.
Selain memberikan pilihan investasi baru, instrumen tersebut diharapkan mendukung penguatan ekosistem bulion nasional.
"Produk ini juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem bulion nasional melalui integrasi antara Pasar Modal dengan bulion, sehingga mampu mendukung pendalaman pasar keuangan nasional," kata Samsul.
Dengan peluncuran tersebut, ETF Emas menjadi instrumen baru dalam pasar modal Indonesia sekaligus menghubungkan pasar modal dengan pengembangan ekosistem bulion nasional.