ECB Kerek Suku Bunga 25 Bps Jadi 2,50%

Gedung ECB di Frankfurt, Jerman. Foto: Xinhua/Zhang Fan.

ECB Kerek Suku Bunga 25 Bps Jadi 2,50%

Husen Miftahudin • 11 September 2026 10:12

Frankfurt: Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga fasilitas deposit sebesar 25 basis poin menjadi 2,50 persen pada Kamis waktu setempat. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar di tengah tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah.
 
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga minyak global, kembali berada di atas USD100 per barel pada pekan ini. Kenaikan tersebut terjadi di tengah pertukaran serangan antara Amerika Serikat dan Iran.
 
Pasar juga mencermati dampak konflik terhadap Selat Hormuz, terutama terkait potensi gangguan lalu lintas kapal tanker di jalur strategis tersebut.
 
Sebelum perang dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz. Kondisi tersebut menjadikan selat itu sebagai salah satu jalur penting dalam distribusi energi global.
 
Ketergantungan tersebut membuat Zona Euro yang merupakan salah satu kawasan pengimpor bahan bakar menghadapi risiko lebih besar dari kenaikan harga energi. Harga gas di kawasan yang menggunakan mata uang euro dan berada dalam pengawasan ECB juga sempat mencapai level tertinggi sejak 2023.
 

 

ECB pertahankan fokus pada inflasi

 
Mengutip Investing.com, Jumat, 11 September 2026, ECB sebelumnya menaikkan suku bunga pada Juni sebelum mempertahankannya pada Juli. Bank sentral kemudian kembali memperketat kebijakan pada September untuk merespons tekanan inflasi.
 
Kenaikan suku bunga diharapkan dapat menekan laju pertumbuhan harga, meskipun kebijakan tersebut juga berpotensi membebani aktivitas ekonomi.
 
Dalam pernyataannya, ECB memperingatkan konflik di Timur Tengah masih memberikan tekanan terhadap inflasi. Bank sentral juga memperkirakan inflasi tetap berada jauh di atas target dua persen untuk periode yang panjang.
 
Analis Capital Economics, termasuk Andrew Kenningham, menilai pernyataan ECB kali ini menunjukkan sikap yang relatif agresif. "Kami sekarang berpikir satu kenaikan lagi kemungkinan akan terjadi," kata Kenningham bersama analis Capital Economics.
 
Pelaku pasar juga memperkirakan masih ada peluang kenaikan suku bunga berikutnya pada tahun depan. Berdasarkan data yang dikutip Reuters, pasar memperkirakan probabilitas sekitar 40 persen untuk kenaikan tambahan.


(Ilustrasi logo Euro di Frankfurt, Jerman. Foto: Xinhua/Zhang Fan)
 

Proyeksi inflasi ECB meningkat

 
Dalam proyeksi terbaru, ECB masih memperkirakan inflasi utama rata-rata mencapai 3,0 persen pada 2026. Sementara itu, pembuat kebijakan menaikkan proyeksi inflasi untuk 2027 dan 2028 masing-masing menjadi 2,5 persen dan 2,1 persen.
 
Kenaikan proyeksi tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan harga, terutama dari sektor energi akibat konflik di Timur Tengah.
 
Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan guncangan energi akibat konflik Iran berpotensi semakin intensif. Dampak lanjutan terhadap harga dan upah juga dapat lebih besar dari perkiraan.
 
Namun, Lagarde menilai perekonomian Zona Euro masih menunjukkan ketahanan. Kondisi tersebut ditopang pasar tenaga kerja yang kuat dan pemulihan sektor jasa yang berperan penting dalam perekonomian kawasan. Lagarde memperkirakan ketahanan ekonomi tersebut berlanjut hingga kuartal III 2026.
 
Setelah pengumuman kebijakan ECB, imbal hasil obligasi pemerintah Jerman bertenor 10 tahun berada di sekitar level tertinggi sejak krisis ekonomi Zona Euro pada 2011. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun bergerak di sekitar level tertinggi sejak periode pascakrisis 2008.

(Husen Miftahudin)