Prosesi pembukaan lahan masyarakat Dayak Bahau. Foto: Indonesia Kaya
Mengenal 4 Tradisi Pembukaan Lahan Suku Dayak
Muhamad Marup • 27 August 2026 16:14
Jakarta: Masyarakat memiliki tradisi yang diturunkan secara turun temurun, termasuk dalam pembukaan lahan. Di tengah isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), isu pembukaan lahan dengan cara membakar kembali mengemuka.
Tidak sedikit masyarakat adat yang melakukan praktik tersebut. Melansir bakumsu.or.id, membakar lahan dalam mengelola perladangan bagi masyarakat adat adalah kearifan lokal yang merupakan hak-hak tradisionil.
Hak-hak tradisional masyarakat adat juga tercantum dalam konstitusi yang hingga kini tetap hidup dan berlangsung, salah satu di antaranya membuka ladang dengan cara tradisional yakni membakar.
Undang-Undang Dasar tahun 1945 pasal 16B ayat (2) menyebut, “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”.
Salah satu suku adat yang memiliki tradisi pembukaan lahan dengan api adalah suku dayak. Metrotvnews.com telah merangkum empat tradisi pembukaan lahan di masyarakat dayak. Berikut penjelasannya.
Masyarakat Dayak Iban
Dayak Iban Menua Sungai Utik di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat menggunakan api dalam pengelolaan lahan mereka. Melansir laman resmi Institut Teknologi Bandung (ITB), pembakaran dilakukan pada lahan yang relatif kecil yaitu maksimal dua hektare.Masyarakat Dayak Iban di Sungai Utik memiliki praktik perladangan gulir balik (swidden agriculture) yang telah diwariskan lintas generasi. Dalam sistem tersebut, api digunakan sebagai salah satu tahapan untuk mempersiapkan lahan.
Penggunaan api tidak berdiri sendiri. Pembakaran menjadi bagian dari sistem pengelolaan lahan yang melibatkan pengetahuan lokal, aturan sosial, teknik pengendalian, serta pemahaman terhadap kondisi lingkungan.
Setelah padi dipanen, lahan tidak terus-menerus digunakan. Lahan akan memasuki masa bera dan kembali mengalami proses suksesi hingga dapat kembali dipilih untuk ditanami setelah beberapa tahun.

Ladang padi aktif dan hutan dalam satu lanskap: gambaran sistem perladangan gulir balik masyarakat Dayak Iban Sungai Utik. (Dok. Rifki Sungkar/SITH ITB)
Masyrakat Dayak Bahau
Melansir Indonesia Kaya, masyarakat adat Dayak Bahau mempunyai tradisi unik menyangkut ritual membersihkan dan menyucikan tanah di awal tahun yang bernama laliq ugal. Tradisi ini bertujuan agar tanaman yang ditanam dapat tumbuh subur sehingga masyarakat bisa sehat dan sejahtera.Tradisi yang diyakini berasal dari kepercayaan manusia kepada dewi kesuburan ini memiliki beberapa tahapan. Tahap pertama dalam ritual adat laliq ugal adalah membuka lahan dengan menyucikan tanah secara umum, lalu membaginya berdasarkan keluarga.
Setelah membuka lahan, tahapan selanjutnya adalah melakukan upacara kecil dengan meletakkan delapan telur ayam kampung di atas bambu. Hal tersebut dilakukan sebagai simbol laporan kepada leluhur bahwa masyarakat Dayak Bahau sedang membuka lahan.
Kepercayaan kepada roh para leluhur juga ditunjukkan melalui tari hudoq. Masyarakat adat Suku Dayak Bahau meyakini dalam setiap pementasan tari hudoq terdapat roh para leluhur di dalamnya.
Dayak Ngaju
Melansir laman IPB University, Dayak Ngaju memiliki cara penyiapan lahan dengan menggunakan api melalui pembakaran terkendali yang dilakukan oleh masyarakat adat atau tradisional. Masyarakat Dayak Ngaju memiliki aturan tertentu dalam proses pembukaan lahan.Dalam penyiapan lahannya, ada dua hal penting yang diperhatikan oleh masyarakat Dayak Ngaju, yakni aturan dan ritual adat serta teknik yang digunakan dalam pembakaran. Ritual adat dilakukan sebelum pembakaran sebagai bentuk penghormatan terhadap makhluk-makhluk gaib yang ada di lahan tersebut.
Pengelolaan dan pemanfaatan lahan gambut yang masih tradisional atau kearifan lokal ini disebut dengan sistem handel. Sistem handel dilakukan secara berkelompok dalam satu hamparan lahan yang luas, mulai dari pemilihan lokasi, penebasan, penebangan, pengeringan, pembakaran, penanaman sampai pemanenan.
Masyarakat Dayak Ngaju melakukan proses pembakaran secara bergotong royong dan semua kegiatan dilakukan dengan cara barunding. Penyiapan lahan dilakukan dengan membuat sekat bakar berupa parit atau membersihkan kayu, rumput dan dedaunan di sekeliling lahan selebar 3-6 meter.
Dayak Kendayan
Melansir National Geographic Indonesia, Masyarakat Dayak Kendayan di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, punya cara untuk membuat api tidak meluas saat pembakaran. Teknik itu mereka sebut "nataki".Masyarakat Dayak Kendayan punya tradisi membuka lahan dengan cara membakar. Tradisi itu sudah turun-temurun dilakukan sejak sejak nenek moyang mereka. Masyarakat Dayak Kendayan juga mengatakan bahwa abu pembakaran batang-batang pohon di lahan yang akan dibuka itu sangat cocok menjadi pupuk alami. Hasil pertaniannya tetap bagus walaupun hanya menggunakan pupuk alami dari abu itu.
Nataki biasanya dilakukan bersama-sama oleh satu kelompok masyarakat.