Di Bawah Ekspektasi, Inflasi Australia Melandai ke 3,7%

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Di Bawah Ekspektasi, Inflasi Australia Melandai ke 3,7%

Ade Hapsari Lestarini • 25 March 2026 18:25

Canberra: Saat para ekonom memproyeksikan angka inflasi akan tertahan di level 3,8 persen untuk bulan ketiga berturut-turut, realitas statistik justru 'melawan arus' dengan menunjukkan pelandaian angka inflasi dari Negeri Kangguru.

Melansir Xinhua, Rabu, 25 Maret 2026, Australian Broadcasting Corporation (ABS) baru saja merilis data inflasi tahunan Australia melandai ke angka 3,7 persen pada Februari 2026. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi para ekonom yang memprediksi inflasi akan tertahan di level 3,8 persen.

Meskipun inflasi Australia melandai tipis, rata-rata terpangkas tahunan (annual trimmed mean) ukuran inflasi inti yang lebih disukai oleh Reserve Bank of Australia (RBA) tetap tidak berubah di angka 3,3 persen pada Februari. Angka ini masih memberikan sinyal waspada, mengingat posisi tersebut masih melampaui batas atas target bank sentral yang ditetapkan sebesar 2-3 persen.


Ilustrasi. Foto: Freepik.
 

 

RBA merespons eskalasi konflik di Timur Tengah


Merespons eskalasi konflik di Timur Tengah, Dewan Kebijakan Moneter RBA mengambil langkah agresif dengan mengerek suku bunga acuan (official cash rate) ke level 4,1 persen pada 17 Maret lalu selama dua bulan berturut-turut. Kenaikan ini merupakan upaya mitigasi terhadap potensi transmisi harga energi global yang kian membebani laju inflasi domestik.

Menanggapi data ABS tersebut, Bendahara Negara (Treasurer) Jim Chalmers mengatakan Konflik berkepanjangan di Timur Tengah akan memperburuk situasi dan menjadi variabel yang sulit dikendalikan untuk menekan inflasi.

Chalmers menambahkan, jika konflik terus berlanjut, inflasi bisa meroket kembali hingga di atas lima persen pada akhir tahun ini. Dalam pidatonya di hadapan pelaku usaha, ia juga mengemukakan pemerintah tengah melakuakn berbagai upaya yang lebih luas untuk meredam laju inflasi.

Laporan ABS mengonfirmasi sektor perumahan menjadi katalis utama inflasi dengan lonjakan sebesar 7,2 persen dalam setahun hingga Februari. Tekanan ini kian diperparah oleh kenaikan harga pada produk makanan dan minuman non-alkohol yang mengalami kenaikan sebesar 3,1 persen. (Richard A.K)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)