Harga Emas Dunia Melemah di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah

Ilustrasi emas batangan. Foto: Xinhua.

Harga Emas Dunia Melemah di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah

Husen Miftahudin • 18 July 2026 10:18

Chicago: Harga emas dunia melemah pada perdagangan Jumat waktu setempat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada tahun ini.

Mengutip The Daily Star, Sabtu, 18 Juli 2026, harga emas spot turun 0,9 persen menjadi USD4.024,60 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus melemah 0,6 persen menjadi USD4.029,50 per ons.

Pergerakan harga emas terjadi meski data inflasi Amerika Serikat pada Juni menunjukkan perlambatan. Pelaku pasar menilai data tersebut belum mencerminkan dampak eskalasi terbaru konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
 

 

Konflik Timur Tengah picu kekhawatiran inflasi


Analis Riset Senior IndusInd Securities Jigar Trivedi mengatakan kesepakatan damai sementara yang dicapai bulan lalu praktis telah berakhir setelah konflik kembali meningkat.

Amerika Serikat dilaporkan melancarkan dua gelombang serangan terhadap sistem pertahanan pantai dan lokasi rudal Iran pada Rabu, menyusul pemberlakuan kembali blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sebagai balasan, Iran menargetkan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di negara-negara tetangga dan menyebut konfrontasi tersebut sebagai perang eksistensial dengan Amerika Serikat.

Eskalasi konflik mendorong harga minyak dunia naik sekitar 11 persen sepanjang pekan. Kenaikan harga energi memunculkan kekhawatiran inflasi kembali meningkat sehingga berpotensi membuat suku bunga bertahan pada level tinggi lebih lama.

Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, daya tarik logam mulia tersebut cenderung berkurang ketika suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Pasar masih perkirakan kenaikan suku bunga


Data inflasi konsumen dan produsen Amerika Serikat pada Juni menunjukkan tekanan harga mulai mereda seiring turunnya biaya energi. Namun, perlambatan inflasi itu dinilai belum cukup untuk mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar masih memperkirakan peluang sekitar 73 persen bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada Desember 2026.

Sementara itu, Gubernur Federal Reserve Lisa Cook menyatakan siap mengambil langkah apabila inflasi tidak kembali melandai dalam waktu dekat.

Ketua Federal Reserve Kevin Warsh juga menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi, meski belum memberikan sinyal mengenai arah kebijakan yang akan ditempuh.

Fokus pasar selanjutnya tertuju pada pernyataan Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, serta Wakil Ketua Federal Reserve, Philip Jefferson.

Keduanya dijadwalkan menyampaikan pandangan mengenai prospek ekonomi dan arah kebijakan moneter pada hari yang sama. Pernyataan tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan, termasuk harga emas, dalam jangka pendek.

(Husen Miftahudin)