Presiden ke-6 RI SBY, Foto: Instagram @presidenyudhoyonoalbum
SBY Cemas Perang Dunia III Meletus, Usulkan PBB Ambil Langkah Darurat
Putri Purnama Sari • 20 January 2026 18:58
Jakarta: Presiden ke-6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dinamika global yang kian memanas dan berpotensi memicu Perang Dunia ke-3. Kekhawatiran tersebut disampaikan SBY melalui utas di akun X pribadinya @SBYudhoyono.
SBY mengaku mengikuti dengan saksama situasi geopolitik global, terutama dalam beberapa bulan terakhir. Puluhan tahun mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dunia, SBY mengaku cemas dan khawatir terhadap kemungkinan terjadinya prahara besar bagi umat manusia.
SBY menilai, Perang Dunia ke-3 sangat mungkin terjadi, meskipun ia masih percaya bahwa skenario paling mengerikan tersebut masih bisa dicegah. Namun, ia mengingatkan bahwa ruang dan waktu untuk mencegahnya semakin sempit dari hari ke hari.
"Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini. Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga," cuit SBY, yang dikutip Selasa, 20 Januari 2026.
SBY mengatakan, sejarah juga mencatat bahwa tanda-tanda perang besar kerap sudah terlihat jauh hari, namun kesadaran dan langkah nyata untuk mencegahnya sering kali tidak dilakukan.
Ia bahkan mempertanyakan mengapa hal tersebut terus terulang, apakah karena bangsa-bangsa di dunia tidak peduli, tidak berdaya, atau memang tidak mampu menghentikannya.

Foto: Instagram @presidenyudhoyonoalbum
Dalam unggahannya, SBY juga menyampaikan doa agar mimpi buruk perang dunia, terlebih yang melibatkan senjata nuklir, tidak sampai terjadi. Ia menyebutkan data dari berbagai studi, dimana jika perang dunia dan perang nuklir benar-benar pecah, maka kehancuran peradaban manusia tak dapat dihindari
“Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 miliar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia,” lanjutnya.
SBY menekankan bahwa, sesempit apapun peluang yang tersisa, akan ada waktu dan cara untuk menyelamatkan dunia. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk berbicara dan bertindak, sembari mengingatkan kutipan terkenal dari Edmund Burke dan Albert Einstein tentang bahaya ketika orang-orang baik memilih diam dan membiarkan kejahatan merajalela.
Sebagai langkah konkret, SBY mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia dalam Sidang Umum PBB darurat (Emergency UN General Assembly).
Menurutnya, agenda utama pertemuan tersebut harus difokuskan pada langkah-langkah nyata untuk mencegah krisis global berskala besar, termasuk kemungkinan perang dunia baru.
SBY mengakui bahwa saat ini PBB kerap dipandang tidak berdaya. Namun, ia menegaskan bahwa sejarah tidak boleh mencatat PBB sebagai lembaga yang melakukan pembiaran atau doing nothing di tengah ancaman besar terhadap umat manusia.
“Mungkin saja seruan para pemimpin sedunia itu bagai berseru di padang pasir. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini," tambahnya.
SBY menutup kekhawatirannya itu dengan keyakinan bahwa selama ada kemauan, selalu ada jalan keluar, seraya menegaskan pentingnya tanggung jawab bersama dalam menjaga perdamaian dunia.