Rupiah Dibuka ke Rp17.874/USD

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Dibuka ke Rp17.874/USD

Eko Nordiansyah • 22 September 2026 09:08

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami pelemahan. Rupiah melemah saat dolar AS mengalami penguatan didukung ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 22 September 2026, rupih berada di level Rp17.874 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 27 poin atau setara 0,15 persen dari Rp17.847 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.808 per USD. Rupiah bergerak menguat tipis dari Rp17.740 per USD pada pembukaan perdagangan kemarin.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Rupiah fluktuatif cenderung melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah. Mata uang rupiah diproyeksi melemah di rentang Rp17.840-Rp17.900 per USD.

Ibrahim mengatakan, pasar akan mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) di tengah dinamika nilai tukar rupiah, inflasi, serta arah kebijakan bank sentral global. Sebagian bank sentral mengambil sikap hawkish, sementara sebagian lainnya mempertahankan suku bunga acuan. 

"Namun melihat situasi inflasi global yang tinggi, kemungkinan Gubernur Bank Indonesia dalam rapat di hari Rabu akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps," kata Ibrahim.

Selain kebijakan moneter, pasar juga mencermati posisi defisit anggaran yang berada di bawah batas tiga persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam rancangan postur RAPBN 2027, pemerintah menargetkan defisit anggaran 2,40 persen terhadap PDB.

Ibrahim menilai, batas defisit tersebut memang menjadi salah satu indikator disiplin fiskal. Namun, angka defisit belum menjamin ketahanan ekonomi nasional apabila tidak diimbangi dengan kualitas belanja yang memadai.

"Defisit di bawah tiga persen sering diperlakukan seperti stempel kesehatan fiskal. Angkanya memang penting karena memberi pagar bagi disiplin anggaran. Tetapi pagar bukan rumah," ungkapnya.

(Eko Nordiansyah)