Strategi Pencegahan TPPO Dinilai Perlu Diperbarui

Ilustrasi TPPO. Foto: Pexels.com/khezez | ????.

Strategi Pencegahan TPPO Dinilai Perlu Diperbarui

Fachri Audhia Hafiez • 5 August 2026 04:53

Jakarta: Pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait didorong segera menyusun strategi pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang adaptif. Hal ini menyusul terungkapnya modus baru pengiriman pekerja migran ilegal ke Kamboja.

"Harus ada strategi baru yang adaptif untuk mencegah berbagai modus TPPO yang terus berkembang. Strategi tersebut harus diterapkan secara komprehensif dari hulu hingga hilir, mulai dari pencegahan, deteksi dini, hingga penindakan," kata anggota Komisi III DPR, Abdullah, di Jakarta, dikutip melalui keterangan tertulis, Selasa, 4 Agustus 2026.
 


Pernyataan tersebut disampaikan merespons penangkapan buronan internasional Interpol Red Notice kasus TPPO, Leny Agusya (Agustya), oleh tim gabungan di Bandara Soekarno-Hatta pekan lalu. Sindikat ini mempekerjakan WNI secara ilegal sebagai operator online scam dan judi online di Kamboja dengan modus berpura-pura melakukan perjalanan wisata.

Berdasarkan hasil investigasi, Leny bertindak sebagai koordinator utama yang merekrut korban melalui grup WhatsApp berkedok liburan, memanipulasi rute perjalanan berlapis via Malaysia. Termasuk menyiapkan skenario penyuapan petugas yang berhasil digagalkan tim gabungan Polri, Imigrasi, dan Avsec.

Atas temuan tersebut, Abdullah menilai pemerintah tidak lagi dapat mengandalkan pemeriksaan administratif berbasis dokumen konvensional di pintu keberangkatan.

“Negara harus mulai membangun sistem yang mampu mendeteksi pola kejahatan (criminal pattern detection), mengenali karakteristik perekrutan, pola komunikasi digital, rute perjalanan berlapis, serta hubungan antarperjalanan yang secara terpisah tampak normal, tetapi sesungguhnya merupakan bagian dari satu operasi perdagangan orang,” ucap Abdullah.


Kompleks Parlemen, Jakarta. Foto: Metrotvnews.com/Fachri Audhia Hafiez.

Abdullah menyampaikan apresiasi kepada Bareskrim Polri, Direktorat Jenderal Imigrasi, dan Interpol atas keberhasilan membekuk Leny. Menurutnya, pengungkapan ini membuktikan tingginya tingkat organisasi sindikat TPPO saat ini.

"Pengungkapan perkara ini tidak hanya berhasil menghentikan satu jaringan perdagangan orang, tetapi juga mengungkap perubahan modus operandi sindikat yang semakin terorganisasi dan semakin sulit dideteksi oleh sistem konvensional," jelas Abdullah.

Dia meminta kepolisian tidak berhenti pada pelaku lapangan, tetapi turut membongkar seluruh ekosistem pendukungnya. Mulai dari penyedia dokumen, penyandang dana, hingga aktor penyuapan.

“Harus menjangkau pihak yang menyediakan dokumen perjalanan, mengatur rute transit, menjadi penyandang dana, menyediakan rekening, hingga aktor yang diduga menyiapkan praktik penyuapan terhadap petugas,” kata Abdullah.

(Fachri Audhia Hafiez)