Ilustrasi. Foto: dok MI.
Rupiah Lagi-lagi Dipukul Mundur Dolar AS
Husen Miftahudin • 6 January 2026 09:58
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini kembali mengalami pelemahan.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 6 Januari 2026, rupiah hingga pukul 09.50 WIB berada di level Rp16.764 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 24 poin atau setara 0,14 persen dari Rp16.740 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.743 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.740 per USD hingga Rp16.770 per USD," jelas Ibrahim.
| Baca juga: Rupiah Tertekan, Pasar Cermati Arah Kebijakan Bunga The Fed |
Intervensi AS di Venezuela
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap penahanan Presiden Venezula Nicolas Maduro. Ia diterbangkan ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan kriminal yang telah lama ada.
"Operasi tersebut menandai intervensi AS paling langsung di Venezuela dalam beberapa dekade dan memicu kecaman dari beberapa negara, sementara investor menilai implikasinya terhadap pasar energi dan stabilitas regional," ungkap Ibrahim.
Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah pernyataan mengatakan penangkapan Maduro adalah langkah menentukan terhadap apa yang ia gambarkan sebagai rezim kriminal, menambahkan AS akan memastikan transisi yang aman dan tertib di Venezuela.
Kemudian, Trump mengancam akan mengambil tindakan terhadap negara-negara lain yang bertentangan dengan kebijakan AS, termasuk Kolombia dan Iran. Ia juga mengulangi seruannya untuk pengambilalihan Greenland oleh AS.
"Aksi militer, ditambah dengan komentar Trump, meningkatkan ketidakpastian atas geopolitik global. Para analis juga memperingatkan tindakan Washington dapat menjadi preseden bagi negara-negara adidaya global lainnya, khususnya Tiongkok dan Rusia," papar dia.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Neraca dagang RI surplus
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus USD2,66 miliar per November 2025. Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi neraca dagang bulan sebelumnya atau Oktober 2025 senilai USD2,39 miliar.
Indonesia mencatatkan ekspor November 2025 mencapai USD22,52 miliar atau turun 6,6 persen dibandingkan November 2024 (yoy). Penurunan ekspor disebabkan oleh penurunan ekspor nonmigas yaitu pada bahan bakar mineral, lemak nabati, hingga besi/baja.
Adapun, nilai impor November 2025 mencapai USD19,86 miliar atau turun 0,46 persen dibandingkan November 2024 (yoy). Neraca perdagangan barang tercatat surplus sebesar USD2,66 miliar. Neraca perdagangan Indonesia dengan ini telah mencatat surplus selama 67 bulan berturut turut sejak Mei 2020.
Surplus pada November 2025 lebih ditopang pada surplus komoditas nonmigas yaitu sebesar USD4,64 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewani nabati, kemudian bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
"Sebelumnya, konsensus ekonom memproyeksikan surplus neraca perdagangan Indonesia akan berlanjut pada November 2025 atau 67 bulan secara beruntun. Surplus diproyeksikan akan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya," papar Ibrahim.