Menatap Masa Depan NU Setelah Muktamar ke-35

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terpilih periode 2026-2031, KH Abdul Hakim Mahfud atau Gus Kikin

Menatap Masa Depan NU Setelah Muktamar ke-35

Deny Irwanto • 2 September 2026 22:26

Jakarta: Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Jombang telah menghasilkan kepemimpinan baru. KH Miftachul Akhyar dipercaya sebagai Rais ‘Aam, sementara KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin dipercaya memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Muktamar yang berlangsung di Jombang tersebut juga dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Kepala Negara hadir pada pembukaan Muktamar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, pada 27 Agustus 2026, dan kembali hadir dalam agenda penutupan pada 31 Agustus 2026.

Kehadiran Presiden dalam dua momentum tersebut menjadi salah satu gambaran hubungan NU dengan kehidupan kebangsaan. Sebagai organisasi kemasyarakatan yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Indonesia, NU memiliki peran yang bersinggungan dengan berbagai persoalan sosial, keagamaan, dan kebangsaan. Di balik proses pergantian kepemimpinan tersebut, terdapat rangkaian konsolidasi yang berlangsung menjelang Muktamar. Salah satu figur yang disebut terlibat dalam proses tersebut adalah Muhammad Lukman Edy.

Lukman Edy dikenal memiliki pengalaman panjang di dunia politik dan lingkungan NU. Lahir di Teluk Pinang, Indragiri Hilir, Riau, pada 26 November 1970, ia menempuh pendidikan Teknik Sipil di Universitas Brawijaya.

Keterlibatannya dalam lingkungan NU telah berlangsung sejak sebelumnya. Lukman Edy pernah memimpin PKB Riau dan menjadi anggota DPRD Riau. Ia juga disebut menjadi salah satu tokoh Melayu yang turut menggalang kekuatan NU di Sumatera untuk bergabung dengan PKB yang ketika itu dipimpin KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Pada 2005, Lukman Edy dipercaya Muhaimin Iskandar sebagai Sekretaris Jenderal DPP PKB. Dua tahun kemudian, ia mendapat amanah sebagai Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk periode 2007-2009.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu latar belakang yang disebut berperan dalam proses konsolidasi menjelang Muktamar NU ke-35. Abi Rekso selaku Juru Bicara Tim Qanun Asasi menyebut kontribusi Lukman Edy dalam proses tersebut cukup signifikan.

Menurut Abi, dukungan terhadap Gus Kikin mencapai 472 dukungan dari wilayah dan cabang NU di berbagai daerah di Indonesia. Angka tersebut menjadi bagian dari proses konsolidasi yang berlangsung dalam waktu relatif singkat.

“Kalau boleh jujur, persiapan ini hanya 2 minggu setelah Yai Kikin manteb untuk maju. Di bawah Koordinasi Pak Lukman Edy seluruh tim bersinergi secara pararel. Alhamdulillah hasil dukungan 472 karena kerja cerdas yang solid," kata Abi Rekso, Rabu, 2 September 2026.

Konsolidasi dalam waktu singkat tersebut menunjukkan dinamika yang berlangsung menjelang Muktamar. Jejaring yang telah terbentuk sebelumnya menjadi salah satu modal dalam membangun komunikasi dengan berbagai unsur organisasi di daerah.

Bagi NU, Muktamar bukan hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga ruang untuk merumuskan arah organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan. Kepemimpinan baru diharapkan dapat melanjutkan kerja organisasi sekaligus menjaga peran NU dalam kehidupan masyarakat dan kebangsaan.

Dengan berakhirnya Muktamar ke-35, perhatian selanjutnya tertuju pada bagaimana kepemimpinan baru PBNU menerjemahkan mandat organisasi ke dalam program kerja dan pelayanan bagi warga Nahdliyin serta masyarakat luas.

 

(Deny Irwanto)