Sejarah dan Asal-Usul Desa Sade, Desa Adat Sasak yang Kebakaran

Ilustrasi Desa Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Juni 2021. ANTARA/Nanien Yuniar.

Sejarah dan Asal-Usul Desa Sade, Desa Adat Sasak yang Kebakaran

Riza Aslam Khaeron • 27 August 2026 16:07

Jakarta: Kebakaran hebat melanda Desa Adat Sade yang terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Api dengan cepat menjalar dan membakar kawasan permukiman yang mayoritas bangunannya terbuat dari kayu, bambu, serta beratap alang-alang.
 
Berdasarkan pembaruan data dari Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, sedikitnya 75 rumah dan 69 art shop hangus dilalap si jago merah.

Api juga merusak sejumlah fasilitas umum dan adat, seperti masjid, berugak sekenam, berugak sekepat, lumbung, balai, toilet, hingga gerbang adat. Meski kerusakan material tergolong berat, dilaporkan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Musibah ini  menghantam salah satu destinasi wisata budaya utama di Pulau Lombok. Sebelum musibah terjadi, ratusan wisatawan domestik maupun mancanegara rutin berkunjung ke Desa Sade setiap hari untuk melihat dari dekat kehidupan dan kebudayaan masyarakat Sasak.

Kebakaran tersebut menghanguskan jejak fisik kebudayaan dan adat tradisional Sasak yang disebut telah dipertahankan oleh masyarakat setempat selama 20 generasi.

Lantas, bagaimana asal-usul dan sejarah Desa Adat Sade? Berikut ulasannya.
 

Asal-Usul Desa Sade

Desa adat ini memiliki catatan asal-usul yang cukup kabur dan memiliki beberapa versi berbeda. Mengutip penelitian tahun 2023 oleh Mohammad Wasil dkk. dalam Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, para sesepuh Desa Sade mengklaim bahwa pemukim pertama mulai menetap di kawasan tersebut pada tahun 1079.

Namun, terdapat pula sumber yang menyebutkan bahwa Desa Sade telah berdiri sekitar 500 hingga 600 tahun yang lalu.

Sementara itu, sumber lain mencatat bahwa desa ini baru diduduki pada era yang lebih baru, yaitu sekitar tahun 1907. Menurut penelitian Dika Dwicahyo dkk. (2023) dalam Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya, konon, penduduk pertama Desa Sade bernama Hameratu Masangaji, yang datang ke wilayah tersebut untuk bermeditasi dan mencari ketenangan jiwa.

Asal-usul nama desa inipun dipenuhi teka-teki, beberapa sumber menyebut kata "Sade" berasal dari bahasa Jawa Kuno atau Sanskerta, yakni Noer Sade, yang berarti "cahaya obat". Seiring masuknya agama Islam pada abad ke-17, nama tersebut bergeser menjadi Noer Sahade, hingga akhirnya disingkat menjadi Sade.

Namun, kata "Noer" terdengar lebih merujuk pada ejaan Van Ophuijsen dari kata bahasa Arab Nur (cahaya) dariapada kosakata dari bahasa Sanskerta.

Sementara itu, kata "Sade" kemungkinan memang berakar dari bahasa Sanskerta. Kata Husada yang disebut sebagai akar dari nama "Sade" desa tersebut merupakan kata serapan dari kata bahasa Sanskerta Osadha yang berarti obat.

“Menurut nenek moyang kami, Sade artinya obat yang berasal dari kata Husada” ungkap Salim, seorang pemandu wisata Desa Sade, kepada tim Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KPSHK) pada tahun 2024.

Kawasan ini dilaporkan mulai didatangi wisatawan nasional dan mancanegara sejak tahun 1970-an.

Budayawan Lombok Tengah, Lalu Putria, menyebut bahwa para tokoh masyarakat Desa Sade menggelar musyawarah besar pada era 1970-an hingga 1980-an, yang menghasilkan kesepakatan untuk tetap mempertahankan Sade sebagai kampung adat Sasak. Desa Sade kemudian secara resmi ditetapkan sebagai kawasan wisata melalui SK Gubernur NTB No. 2 Tahun 1989.
   

Tradisi-Tradisi di Desa Sade

Selain arsitektur bangunannya yang khas, Desa Sade dikenal karena masyarakatnya yang konsisten menjaga berbagai tradisi dan kebudayaan Sasak, di antaranya:

1. Tenunan Adat Sasak


Tenunan Sasak. (Dok. Kementerian Pariwisata)

Menenun merupakan tradisi yang melekat pada perempuan suku Sasak yang dilestarikan di desa Sade.

Dulunya merupakan keterampilan wajib bagi semua perempuan Sasak, namun kini diwariskan secara turun-temurun dan dipelajari sejak usia muda, umumnya sekitar usia 10 tahun di desa Sade. Mayoritas perempuan dewasa di Desa Sade mahir membuat kain tenun dengan alat tenun tradisional.

2. Merariq (Tradisi Kawin Lari)

Salah satu adat masyarakat Sasak di Sade yang paling dikenal adalah merariq, yaitu tradisi membawa atau "melarikan" calon pengantin perempuan sebagai bagian dari proses tahapan pernikahan.

Dalam praktiknya, pasangan pria dan wanita terlebih dahulu membuat kesepakatan sebelum calon pengantin perempuan "diculik" menuju rumah keluarga pria. Setelah itu, kedua pihak keluarga menggelar musyawarah adat untuk membahas wali, mahar, dan tata cara adat sebelum dilanjutkan ke prosesi ijab kabul.

3. Rumah Adat Sasak


Rumah "Bale" adat Sasak. (Dok. Kementerian Pariwisata)

Pelestarian bentuk rumah tradisional menjadi bagian penting dari kehidupan warga Sade. Bangunan rumah menggunakan bahan-bahan lokal seperti kayu, bambu, tanah, dan atap alang-alang. Salah satu bentuk rumah yang populer adalah Bale Tani.

Menurut data Kementerian Pariwisata, salah satu rumah Bale Tani tertua di Desa Sade telah dihuni secara turun-temurun selama 20 generasi.

4. Peresean


Foto: ANTARA/Sugiharto Purnam

Masyarakat Desa Sade juga melestarikan Peresean, yaitu seni pertarungan tradisional sekaligus seni tari khas Sasak yang masih populer di Kabupaten Lombok Tengah.

Pertunjukan ini mempertemukan dua petarung yang disebut pepadu. Masing-masing petarung berbekal tongkat rotan (penjalin) sebagai senjata dan perisai dari kulit sapi/kerbau (ende) sebagai pelindung. Pertarungan diiringi musik gamelan, gendang kecil, gong, dan suling. Pertunjukan berakhir jika salah satu pepadu mengeluarkan darah atau atas keputusan pekembar (wasit).

5. Gendang Beleq


Dok. Kementerian Pariwisata

Gendang Beleq (berarti "gendang besar") adalah kesenian musik tradisional Sasak yang menggunakan instrumen gendang berukuran besar dan dimainkan oleh belasan pemusik. Musik tradisional ini umumnya mengiringi prosesi pernikahan, tradisi nyongkolan, serta mengiringi pertunjukan adat seperti Peresean.

(Riza Aslam Khaeron)