Podium Media Indonesia: Gali Lubang Tutup Lubang

Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.

Podium Media Indonesia: Gali Lubang Tutup Lubang

Media Indonesia, Abdul Kohar • 21 September 2026 05:58

Ada lagu lama yang rupanya tidak pernah benar-benar tua. Judulnya Gali Lobang Tutup Lobang, dinyanyikan Rhoma Irama bersama Soneta. Lagu itu sudah berumur puluhan tahun, tetapi belakangan terasa seperti baru diciptakan kemarin sore setelah membaca RAPBN 2027.

Pesannya sederhana, yakni jangan sampai kita pinjam uang untuk membayar utang. Dulu, kita mendengarnya sambil menikmati suara mandolin Soneta. Sekarang, barangkali lebih cocok mendengarnya sambil membuka nota keuangan.
 


Angkanya membuat dahi berkerut. Tahun depan pemerintah merencanakan utang baru sekitar Rp876 triliun. Pada saat bersamaan, anggaran membayar bunga utang mencapai Rp650,31 triliun.

Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli membuat perbandingan yang gampang dipahami bahkan oleh orang yang alergi tabel APBN. Jika utang baru Rp876 triliun dibandingkan dengan pembayaran bunga Rp650 triliun, nilainya setara sekitar 74%.

Tentu, secara akuntansi tidak tepat mengatakan setiap Rp100 utang baru, Rp74 langsung dimasukkan ke amplop bertuliskan 'bayar bunga'. APBN bukan warung kelontong dengan laci uang yang dipisah-pisahkan demikian. Namun, perbandingan itu memperlihatkan betapa sempit ruang fiskal ketika kewajiban bunga membesar sementara kebutuhan pembiayaan meningkat. Di situlah alarm berbunyi.

Utang sebenarnya bukan barang haram. Hampir semua negara berutang. Perusahaan berutang. Orang kaya pun berutang. Bahkan orang yang punya deposito miliaran rupiah kadang masih mencicil mobil.

Masalahnya bukan semata-mata apakah kita berutang, melainkan untuk apa utang dibuat, seberapa mahal harganya, dan apakah kemampuan membayarnya tumbuh lebih cepat daripada kewajibannya.

Kalau utang digunakan untuk membangun infrastruktur produktif, memperbaiki kualitas manusia, menggerakkan ekonomi, dan memperbesar penerimaan negara, ia bisa menjadi pengungkit. Utang seperti cangkul yang dipakai menggali sawah, hasilnya padi. Celakanya, kalau cangkul dipakai menggali lubang untuk menutup lubang kemarin.

Pada 2027, pembayaran bunga utang direncanakan Rp650,31 triliun, naik 11,7% dari outlook 2026 sekitar Rp582,2 triliun. Sebanyak Rp589,68 triliun merupakan bunga utang dalam negeri dan Rp60,63 triliun bunga utang luar negeri.
 
Angka itu semakin terasa ketika disandingkan dengan transfer ke daerah (TKD). TKD dalam RAPBN 2027 dirancang Rp735 triliun. Artinya, uang membayar bunga utang hampir sebesar uang yang ditransfer kepada 38 provinsi, lebih dari 500 kabupaten/kota, serta puluhan ribu desa.

Bayangkan. Yang satu untuk membayar harga uang yang pernah kita pinjam. Yang lainnya mesti dibagi ramai-ramai membiayai pelayanan publik dan pembangunan di seantero Republik.

Dengan demikian, persoalan utang tidak cukup dijawab dengan kalimat bahwa rasio utang terhadap produk domestik bruto masih terkendali. Rasio memang penting. Namun, kemampuan membayar bunga, kekuatan penerimaan negara, biaya utang, dan ruang fiskal yang tersisa tidak kalah penting.

Rumah tangga mengenal logika itu. Pegawai bergaji Rp10 juta mungkin masih bisa memperoleh pinjaman Rp100 juta. Bank boleh mengatakan rasionya aman. Namun, kalau sebagian besar penghasilan habis untuk cicilan dan bunga, orang rumah tentu tidak terhibur mendengar ceramah tentang debt-to-income ratio. Uang sekolah anak tetap harus dibayar dan harga cabai tidak mengenal teori fiskal.

Persoalan makin pelik karena penerimaan perpajakan belum cukup kuat mengimbangi kebutuhan belanja. Ketika pendapatan tertinggal, pilihan termudah memang utang. Mudah, tetapi bukan gratis.

Karena itu, pemerintah perlu mulai menginjak rem. Bukan rem mendadak hingga pembangunan terjungkal, melainkan pengereman terukur, dengan memperkuat penerimaan pajak tanpa membebani kelompok rentan, membereskan kebocoran, menyeleksi belanja produktif, dan memastikan setiap rupiah utang menghasilkan manfaat lebih besar daripada ongkosnya.

Disiplin fiskal jangan hanya menjadi kosakata indah dalam pidato. Tidak semua proyek harus dilaksanakan hari ini. Tidak semua keinginan mesti diberi anggaran. Negara pun harus mengenal perbedaan antara kebutuhan dan kegemaran.

Utang punya tabiat kurang menyenangkan, yaitu uangnya dinikmati hari ini, tagihannya datang kemudian. Tagihan itu bisa dibayar pemerintahan berikutnya. Bisa pula anak-anak kita.

Rhoma Irama sejak puluhan tahun lalu sebenarnya sudah memberikan pelajaran ekonomi murah meriah. Tidak perlu seminar di hotel bintang lima. Tidak perlu presentasi seratus halaman.

Kalau lubang lama ditutup dengan menggali lubang baru, lama-lama halaman rumah penuh lubang. Pada saat itu, kita bukan lagi bingung hendak menutup lubang yang mana. Kita justru kebingungan mencari tanah untuk berpijak.

(Fachri Audhia Hafiez)