Ketua The Fed Jerome Powell. Foto: Pintu.co.id
Ogah 'Nurut' Trump, Fed Tahan Suku Bunga di Level 3,50-3,75%
Husen Miftahudin • 29 January 2026 07:55
Washington: Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan kisaran target suku bunga dana federal pada level 3,50 persen hingga 3,75 persen pada pertemuan kebijakan pertamanya di 2026. Keputusan ini diambil setelah tiga kali penurunan suku bunga berturut-turut pada paruh kedua 2025.
"Indikator yang tersedia menunjukkan aktivitas ekonomi telah berkembang dengan kecepatan yang solid. Penambahan lapangan kerja tetap rendah, dan tingkat pengangguran menunjukkan beberapa tanda stabilisasi. Inflasi tetap agak tinggi," kata Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dalam sebuah pernyataan, mengutip Xinhua, Kamis, 29 Januari 2026.
"Untuk mendukung tujuannya, Komite memutuskan untuk mempertahankan kisaran target suku bunga dana federal pada 3,30 persen hingga 3,75 persen. Dalam mempertimbangkan besaran dan waktu penyesuaian tambahan terhadap kisaran target suku bunga dana federal, Komite akan dengan cermat menilai data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko," sambung pernyataan Komite.
FOMC menegaskan kembali komitmennya untuk mendukung lapangan kerja maksimal dan mengembalikan inflasi ke target dua persen. Dari 12 anggota FOMC, 10 anggota memilih untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah.
Stephen Miran dan Christopher Waller memilih menentang tindakan tersebut. Mereka justru lebih memilih untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan tersebut.
| Baca juga: Trump Pastikan Suku Bunga Fed Bakal Turun Drastis |
Ogah nurut Trump, tegaskan independensi bank sentral
The Fed juga mengumumkan FOMC dengan suara bulat menegaskan kembali pernyataan tentang tujuan jangka panjang dan strategi kebijakan moneter, yang mengartikulasikan pendekatannya terhadap kebijakan moneter pada pertemuan organisasi tahunannya.
Dalam konferensi pers setelah pertemuan tersebut, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan ekonomi AS tumbuh dengan kecepatan yang solid tahun lalu dan memasuki 2026 dengan pijakan yang kokoh.
Namun, kebijakan moneter tidak berjalan sesuai rencana, Powell menegaskan kembali dan menambahkan Komite akan terus membuat keputusan pemotongan suku bunga dari pertemuan ke pertemuan berdasarkan data yang masuk.
Menanggapi independensi The Fed, Powell memberikan pembelaan yang kuat terhadap independensi bank sentral, dengan mengatakan itu adalah landasan demokrasi modern dan perlindungan terhadap politisasi kebijakan moneter.
"Alasannya adalah kebijakan moneter dapat digunakan. Anda tahu, selama siklus pemilihan untuk memengaruhi perekonomian dengan cara yang akan menguntungkan secara politik. Jika Anda kehilangan itu, akan sulit untuk mempertahankannya," tukas Powell.

(Ketua Fed Jerome Powell dalam konferensi pers pascarapat FOMC. Foto: Li Yuanqing/Xinhua)
Trump terus kritik Powell
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan segera mengumumkan pilihannya untuk kepala Federal Reserve yang baru. Seiring dengan kepemimpinan baru bank sentral tersebut, ia memastikan suku bunga akan turun.
"Ketika kita memiliki ketua Fed yang hebat, saya pikir kita akan memilikinya. Saya akan segera mengumumkannya. Anda akan melihat suku bunga turun drastis," ucap Trump saat berbicara di sebuah rapat umum di Des Moines, Iowa.
Masa jabatan Ketua Fed Jerome Powell berakhir pada Mei 2026, dan Trump akan mengumumkan pilihannya untuk pengganti Powell dalam beberapa bulan mendatang.
Presiden telah berulang kali mendesak Powell untuk memangkas suku bunga secara tajam, dengan alasan The Fed terlalu lambat dalam menurunkan suku bunga dan melonggarkan kondisi moneter.
Trump terus mengkritik Powell, menyebutnya "Powell yang terlambat" selama pidatonya pada Selasa waktu setempat.
Tuntutan Trump untuk menurunkan suku bunga mencapai puncaknya awal bulan ini setelah Powell mengatakan ia telah diancam dengan penyelidikan kriminal oleh Departemen Kehakiman karena keengganannya untuk memangkas suku bunga.
Tekanan Trump terhadap Powell telah memicu kekhawatiran yang meningkat mengenai independensi bank sentral, kekhawatiran yang juga memicu aksi jual obligasi dan dolar AS.