Harga Emas Bergerak Datar Jelang Rilis Data Inflasi AS Pekan Ini

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Emas Bergerak Datar Jelang Rilis Data Inflasi AS Pekan Ini

Eko Nordiansyah • 13 October 2026 08:43

Chicago: Harga emas bergerak variatif pada Senin, 12 Oktober 2026, karena penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak membebani sentimen pasar. Para pelaku pasar logam mulia juga menantikan data inflasi penting AS yang akan dirilis akhir pekan ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai langkah kebijakan moneter Federal Reserve.

Dikutip dari Investing, Selasa, 13 Oktober 2026, harga emas spot turun 0,5 persen dan ditutup pada level USD4.171,77 per ons. Sementara harga emas berjangka ditutup sedikit di atas level datar pada USD4.196,95 per ons.

Data inflasi akan memengaruhi perkiraan suku bunga The Fed

Dengan pasar obligasi AS yang tutup untuk liburan Columbus Day, para pemantau suku bunga mendapatkan sedikit jeda. Namun, perhatian akan segera tertuju pada agenda ekonomi AS yang krusial di akhir pekan ini.

Laporan indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) AS untuk bulan September masing-masing akan dirilis Rabu dan Kamis. Komponen dari kedua laporan tersebut menjadi acuan bagi indikator inflasi pilihan Federal Reserve, yaitu indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE).

Pembaruan data inflasi ini muncul setelah data ekonomi terkini memicu penyesuaian drastis terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, khususnya untuk Oktober.
(Ilustrasi emas. Foto: Dok Bappebti)

Permintaan bank sentral menopang harga emas

Sementara itu, analis ANZ menyatakan kinerja emas belakangan ini didukung oleh peningkatan permintaan investasi, dengan arus masuk dana ke exchange-traded fund (ETF) berbasis emas mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir, menurut data Bloomberg.

Para analis mengaitkan minat investor tersebut dengan meningkatnya tekanan fiskal di seluruh dunia, khususnya kekhawatiran mengenai biaya pembayaran utang pemerintah dan jumlah uang beredar. Bank-bank sentral juga terus menambah cadangan emas mereka.

Bank Sentral Tiongkok (People’s Bank of China) menambah 740 ribu ons emas ke dalam cadangannya pada bulan September, melanjutkan tren pembelian yang telah berlangsung selama 23 bulan berturut-turut.

Namun, ANZ memperingatkan risiko inflasi dapat membatasi kenaikan harga lebih lanjut jika hal tersebut mendorong The Fed untuk memperketat kebijakan lebih jauh. Prospek suku bunga yang lebih tinggi tetap menjadi kekhawatiran bagi emas, karena aset yang menghasilkan imbal hasil (yield) menjadi lebih menarik saat biaya pinjaman meningkat.

Harga minyak naik seiring kekhawatiran pasokan

Beralih ke aspek geopolitik, kenaikan harga minyak pada Senin memberikan tekanan pada emas. Kenaikan harga minyak tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran akan gangguan pasokan, menyusul serangan mematikan pada Sabtu oleh kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, yang menewaskan 13 orang.

Pada Sabtu, Presiden Donald Trump mengatakan kepada para wartawan di AS, Washington "mungkin" akan bergabung dengan Arab Saudi dalam melancarkan serangan udara terhadap kelompok Houthi.

Peristiwa di Arab Saudi tersebut mengalihkan perhatian dari pengumuman Trump sebelumnya pada Jumat mengenai kesepakatan dengan Rusia. Negara itu akan memasok cadangan solar ke pasar AS dan global guna menurunkan harga bahan bakar olahan yang sedang melonjak.

Pada Minggu pagi, Trump juga menyatakan adanya "gencatan senjata energi" yang berlaku segera antara Rusia dan Ukraina, meskipun Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Rusia telah melanggar kesepakatan tersebut. Sebelumnya pada Sabtu, Trump mengatakan kepada para wartawan di AS sudah saatnya Ukraina memiliki presiden yang "baru".

(Eko Nordiansyah)