Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Emas Bergerak Variatif, Ini Pemicunya
Eko Nordiansyah • 14 October 2026 08:28
Chicago: Harga emas dunia bergerak variatif pada Selasa, 13 Oktober 2026 sehari menjelang rilis data inflasi penting AS. Para pelaku pasar logam mulia mencermati pelemahan dolar dan harga minyak yang cenderung datar.
Dikutip dari Investing, Rabu, 14 Oktober 2026, harga emas spot turun 0,3 persen dan ditutup pada level USD4.161,20 per ons. Sementara harga emas berjangka naik tipis 0,2 persen dan ditutup pada level USD4.184,30 per ons.
Data CPI jadi sinyal suku bunga The Fed
Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) AS masing-masing akan dirilis pada Rabu dan Kamis. Data ini akan dicermati untuk mendapatkan indikator lebih lanjut mengenai kondisi inflasi saat ini serta petunjuk tentang kebijakan moneter Federal Reserve di masa mendatang.Pembaruan data CPI dan PPI ini muncul setelah data terbaru memicu penyesuaian kembali ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed untuk Oktober.
Pada Selasa, Presiden The Fed wilayah New York, John Williams, menyatakan ia masih memperkirakan satu kali lagi kenaikan suku bunga tahun ini namun tidak melihat perlunya kenaikan lebih lanjut pada 2027. Ia menyoroti adanya tekanan disinflasi yang mendasar, meskipun terdapat tekanan dari harga energi dan investasi kecerdasan buatan (AI).
Para pedagang emas juga memantau pasar obligasi AS seiring kembalinya investor pendapatan tetap (fixed-income) dari liburan Columbus Day.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS melanjutkan penurunan dari pekan lalu, yang semakin meredakan aksi jual obligasi yang sebelumnya berlangsung intens. Imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun turun 3,9 basis poin dan ditutup pada level 5,209 persen.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Unplash)
Ketidakpastian geopolitik membayangi
Beralih ke geopolitik, harga minyak bergerak variatif pada Selasa karena potensi peningkatan pasokan global akibat kesepakatan diesel AS-Rusia, diimbangi oleh kekhawatiran gangguan pasokan terkait eskalasi pertempuran antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.Harga minyak sempat turun setelah Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak menyatakan pada Senin malam, negaranya akan mampu mengembalikan ekspor diesel ke tingkat di atas ketentuan yang digariskan oleh Presiden Donald Trump dalam kesepakatan pasokan dengan Moskow.
Trump pada Jumat lalu mengatakan ia telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan kesepakatan telah dicapai, Rusia akan memasok lebih dari 300 ribu ton diesel ke pasar minyak AS dan global, dengan tambahan 500 ribu ton yang akan dipasok pada bulan November, dan satu juta ton setelahnya. Presiden AS tersebut juga mengatakan pemerintahannya telah mencabut sanksi terhadap bahan bakar Rusia untuk sementara waktu.
"Itu disalurkan ke dunia. Itu tidak disalurkan kepada kita," ujar Trump kepada wartawan pada hari Selasa, merujuk pada kesepakatan diesel tersebut. Kesepakatan itu telah menuai kritik dari kedua partai politik di Washington.
Di sisi lain, serangan Houthi menyebabkan jatuhnya korban jiwa di sebuah bandara Saudi selama akhir pekan, yang memperparah kekhawatiran akan gangguan pasokan di tengah ancaman terhadap infrastruktur energi kerajaan tersebut.
Kelompok Houthi pada Selasa memperingatkan akan adanya lebih banyak serangan terhadap bandara dan kilang minyak jika koalisi pimpinan Saudi menyerang ibu kota Yaman, Sanaa. Trump menuduh kelompok Houthi "sengaja berupaya mendongkrak" harga minyak menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November.