Almarhum Muhammad Rasya Fadilla. Foto: Istimewa
Mimpi Mahasiswa Poltekpel Malahayati Aceh Terhenti di Masa Orientasi
Fajri Fatmawati • 6 October 2026 20:33
Banda Aceh: Kesempatan terakhir di SMA menjadi masa bagi Muhammad Rasya Fadilla untuk belajar lebih giat sebelum melangkah ke pendidikan selanjutnya. Di tengah kebimbangan menentukan arah masa depan, Rasya akhirnya menemukan satu tujuan yaitu sekolah pelayaran.
Namun, cita-cita itu terhenti. Rasya meninggal dunia saat menjalani masa orientasi sebagai mahasiswa Program Diploma III (D-III) Studi Nautika di Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh.
Rasya mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Minggu, 27 September 2026. Ia baru berusia 17 tahun.
Jauh sebelum mengenakan seragam pendidikan pelayaran, Rasya telah menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di lingkungan pendidikan Sukma Bangsa Lhokseumawe. Dua belas tahun perjalanan itu ia tuangkan sendiri dalam sebuah tulisan berjudul Kisah Perjalanan 12 Tahun di Sukma.
Tulisan tersebut menjadi semacam catatan perjalanan seorang remaja yang sedang berusaha memahami dirinya, mengenang masa kecil, persahabatan, musik, sekaligus merancang masa depan.
“Kesempatan terakhir di SMA buat belajar dengan giat terakhir kalinya sebelum masuk ke pendidikan selanjutnya.” Kalimat itu menjadi salah satu bagian yang menggambarkan fase terakhir kehidupan sekolah Rasya.
Dari seragam baru hingga petak umpet
Rasya lahir pada 10 Februari 2008. Ia mulai bersekolah di Sukma Bangsa Lhokseumawe sejak sekolah dasar dan tumbuh di lingkungan yang sama hingga kelas XII.Dalam tulisannya, Rasya mengenang hari pertama masuk SD pada 2014 sebagai pengalaman yang sederhana, tetapi membekas. Ia begitu bersemangat mengenakan seragam, tas, dan sepatu baru. Masa SD bagi Rasya bukan sekadar tentang pelajaran.
Ia mengingat guru-guru yang menurutnya baik dan sabar. Para guru, tulisnya, bukan hanya mengajarkan pelajaran sekolah, tetapi juga banyak hal tentang kehidupan.
Di luar kelas, dunia Rasya dipenuhi permainan bersama teman-temannya. Petak umpet, kelereng, hingga sepak bola menjadi bagian dari hari-harinya.
Ada pula kenangan yang membuatnya malu ketika mengingatnya kembali. Ia pernah mengompol di kelas saat masih duduk di sekolah dasar. Kenangan seperti itu, bagi Rasya, justru menjadi bagian dari cerita yang akan dirindukannya setelah lulus.
Salah satu pengalaman yang paling ia ingat adalah perjalanan school visit ke Medan ketika duduk di kelas IV. Bersama teman-temannya, Rasya mengunjungi sejumlah tempat, bermain, menginap bersama, membuat pizza, hingga mengunjungi museum.
“Masa-masa SD itu juga salah satu momen berharga dalam hidup yang ga akan pernah aku lupain seumur hidup aku,” tulis Rasya.
Masa SMP dan pandemi
Memasuki SMP, perjalanan Rasya berubah karena pandemi COVID-19. Hari-hari sekolah yang seharusnya diisi pertemuan dengan teman baru justru berlangsung dari rumah. Ia harus bangun, melakukan absensi, kemudian mengikuti pembelajaran melalui Zoom.Rasya mengaku sempat merasa bosan. Belajar dari rumah juga membuatnya merasa tidak sebebas ketika berada di sekolah untuk bertanya langsung kepada guru ketika tidak memahami pelajaran. Ketika akhirnya kembali ke sekolah, suasana belum sepenuhnya normal. Masker masih dikenakan dan jarak antarsiswa di kelas diatur.
Di kelas 7, ia kembali bertemu teman-teman, meski suasana awalnya masih canggung. Bahkan, ada satu hal kecil yang kemudian menjadi kenangan yaitu Rasya harus belajar menggunakan dasi manual.
Berbagai kegiatan sekolah kemudian kembali mewarnai masa SMP-nya, mulai dari market day, kegiatan dengan pakaian adat, hingga perjalanan school visit ke Malaysia dan Singapura.
Menemukan dirinya lewat musik
Memasuki SMA, Rasya mulai menghadapi pertanyaan yang lebih besar tentang hidupnya. Ia pernah merasa tidak memiliki arah dan tujuan yang jelas.Namun, di tengah fase tersebut, ia bertemu dengan seseorang yang menurutnya mampu memahami dirinya. Orang itu membuatnya lebih percaya diri dan merasa lebih kuat. Ia juga merasa tidak lagi sendirian karena memiliki seseorang untuk berbagi cerita.
Selain itu, Rasya menemukan lingkaran pertemanan yang membuat masa SMA menjadi lebih berwarna. Mereka nongkrong bersama, berjalan-jalan, dan menghabiskan waktu bersama. Seperti kebanyakan pertemanan remaja, perselisihan sesekali terjadi. Namun bagi Rasya, pertengkaran tidak seharusnya membuat persahabatan berakhir.
Di masa inilah musik juga menjadi bagian penting dalam hidupnya. Rasya bersama teman-temannya membentuk sebuah band. Mereka bahkan sempat merilis sebuah lagu berjudul “Sejenak” – Lentera. Bagi Rasya, musik bukan hanya kegiatan untuk mengisi waktu.
“Aku bisa ekspresikan diri aku lewat musik, dan itu bikin aku ngerasa lebih hidup.”
Cita-cita yang mulai menemukan arah
Rasya mengakui dirinya bukan siswa yang selalu serius. Ia menggambarkan dirinya sebagai sosok yang santai dan terkadang kurang serius mengurus sesuatu. Di kelas, ia mengaku kadang tertidur dan tidak memperhatikan guru. Ia juga memiliki mata minus yang membuatnya kesulitan melihat dari jarak jauh dan terkadang menghambat proses belajar.Namun, ia tidak ingin menjadikan keterbatasan itu sebagai alasan untuk menyerah. Menjelang kelulusan SMA, Rasya mulai memiliki tujuan yang lebih jelas yaitu masuk sekolah pelayaran.
Ia sadar jalan menuju pendidikan tersebut tidak mudah. Karena itu, ia berencana mengubah kebiasaan dan belajar lebih giat.
“Untuk mencapai masa depan yang aku impikan, aku harus merubah pola gaya hidup aku menjadi lebih baik.”
Di satu sisi, Rasya masih ingin menikmati waktu bersama teman-temannya. Ia sadar kelas XII adalah masa terakhir sebelum mereka berpencar menuju pendidikan dan kehidupan masing-masing. Di sisi lain, ia tahu waktunya untuk mempersiapkan masa depan semakin sedikit.
“Ini kesempatan terakhir di SMA buat belajar dengan giat terakhir kalinya sebelum masuk ke pendidikan selanjutnya,” tulisnya.
Mimpi menjadi pelaut yang belum sempat diwujudkan
Setelah lulus dari Sukma Bangsa Lhokseumawe, Rasya melangkah menuju pendidikan yang selama ini ia rencanakan. Ia diterima sebagai mahasiswa D-III Studi Nautika di Poltekpel Malahayati Aceh.Masa orientasi menjadi awal perjalanan baru yang seharusnya membawanya semakin dekat dengan cita-cita menjadi seorang pelaut. Namun, perjalanan tersebut tidak berlangsung lama.
Sebelum meninggal, Rasya sempat mengalami demam tinggi dan nyeri tenggorokan. Kondisinya kemudian disertai munculnya ruam kemerahan di sekujur tubuh.
Rasya sebelumnya telah mendapatkan perawatan di klinik kampus. Karena kondisi kesehatannya memburuk, ia dirujuk ke RSUDZA Banda Aceh.
Ibu korban, Nurlaila, sempat melakukan panggilan video dengan putranya saat dalam perjalanan dari Lhokseumawe. Dalam percakapan singkat tersebut, korban mengeluhkan kondisi fisiknya yang mengalami sesak napas.
Pada Minggu, 27 September 2026, Rasya meninggal dunia di rumah sakit tersebut. Kabar meminggalnya menjadi perhatian aparat kepolisian setelah keluarga menyampaikan adanya memar pada sejumlah bagian tubuh korban.

Personel Satreskrim Polresta Banda Aceh saat melakukan penyelidikan terkait meninggalnya taruna Poltekpel Malahayati Aceh, di RSUDZA Banda Aceh. Foto: Istimewa
Polresta Banda Aceh kini menyelidiki penyebab meninggalnya Rasya. Polisi berkoordinasi dengan dokter forensik dan melakukan pemeriksaan medis, termasuk visum serta CT scan, untuk mengetahui penyebab pasti Rasya meninggal dunia.
“Untuk mengetahui penyebab pasti kematian, polisi kini berkoordinasi dengan dokter forensik dan melakukan pemeriksaan visum serta CT scan,” kata Kasatreskrim Polresta Banda Aceh Kompol Miftahuda Dizha Fezuono, Selasa, 29 September 2026.
Polisi juga menelusuri rangkaian peristiwa yang dialami Rasya sebelum meninggal dunia. Pihak kampus dan sejumlah saksi yang mengetahui kondisi Rasya selama menjalani masa orientasi akan dimintai keterangan.
Hingga pemeriksaan forensik selesai, penyebab pasti kematian Rasya masih dalam penyelidikan.
Yang tersisa kini adalah catatan seorang remaja tentang perjalanan 12 tahun sekolahnya tentang seragam baru, permainan masa kecil, pandemi, persahabatan, musik, dan cita-cita yang mulai menemukan arah.
Rasya pernah menulis tentang keinginannya untuk mengubah diri demi masa depan. Ia telah memilih laut sebagai bagian dari masa depannya. Tetapi sebelum sempat menjalani perjalanan itu lebih jauh, langkahnya terhenti di masa orientasi.