Awal Pekan, Rupiah Dibuka ke Rp17.121/USD

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Awal Pekan, Rupiah Dibuka ke Rp17.121/USD

Eko Nordiansyah • 13 April 2026 09:13

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah tertekan saat dolar AS menguat usai perudingan AS-Iran di Pakistan tak mencapai kesepakatan.

Mengutip data Bloomberg, Senin, 13 April 2026, rupiah berada di level Rp17.121 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 17 poin atau setara 0,10 persen dari Rp17.090 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.107 per USD. Rupiah terpantau melemah dibandingkan pembukaan Jumat pekan lalu yang sebesar Rp17.077 per USD.



(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Rupiah masih fluktuatif cenderung melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut, mata uang rupiah diperkirakan masih fluktuatif cenderung melemah hari ini. Mata uang Garuda diprediksi akan ditutup melemah di kisaran Rp17.110 per USD hingga Rp17.160 per USD.

Ibrahim menjelaskan, sejumlah kondisi turut mempengaruhi pelemahan di antaranya, kesepakatan gencatan senjata AS-Iran, dan imbas serangan Israel ke Lebanon. Ia mengungkapkan, ada dua skenario yang mungkin terjadi.

Pertama, jika jeda perang selama dua minggu tercapai, maka harga minyak diprediksi turun sehingga akan meredam inflasi. Namun jika negosiasi gagal, potensi perang terbuka akan memicu lonjakan harga minyak mentah dan emas secara bersamaan.

Sementara di dalam negeri, survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan persepsi masyarakat terhadap ekonomi masuk kategori kuat pada Maret 2026. Itu tercermin dalam Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) tercatat 115,4 pada level optimis (di atas 100), kendati sedikit lebih rendah dibanding Februari 2026 sebesar 115,9.

“Adapun dua komponen lainnya masih berada di zona optimistis meski mengalami penurunan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) tercatat 107,8 turun dari bulan sebelumnya 110,7. Sedangkan indeks pembelian barang tahan lama atau durable goods (IPDG) 109,2 lebih rendah dibanding Februari mencapai 112,0,” ucap Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)