Ilustrasi. Foto: dok MI.
Rupiah Turun Tipis, Sentimen CPI AS dan Geopolitik Jadi Penekan
Ade Hapsari Lestarini • 10 April 2026 17:14
Jakarta: Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat sore melemah 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.104 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.090 per USD.
Sementara Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat ini juga bergerak melemah ke level Rp17.112 per USD dari sebelumnya Rp17.082 per USD.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sikap wait and see pasar jelang rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS.
"Meskipun sempat terapresiasi ke level Rp17.083 pada awal sesi, tekanan eksternal masih mendominasi, terutama akibat penguatan dolar AS menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat," katanya kepada Antara di Jakarta, Jumat, 10 April 2026.

Ilustrasi. Foto: dok MI.
Baca Juga :
Rupiah Turun 0,13% ke Rp17.112 di Jumat Pagi
Data CPI AS diperkirakan meningkat
Data CPI AS diperkirakan meningkat, sehingga memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan menopang penguatan dolar AS.
Di samping itu, lanjutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta potensi gangguan distribusi energi global turut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, yang turut memberikan tekanan pada rupiah.
Melihat sentimen domestik, intervensi Bank Indonesia (BI) disebut menjadi penopang utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.
Dia mengatakan, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menegaskan stabilisasi rupiah menjadi prioritas, dengan langkah intervensi di pasar spot dan non-deliverable forward (NDF), serta kesiapan membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder.
"Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bank sentral secara konsisten menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui intervensi di pasar domestik NDF dan offshore," kata Amru.