Rupiah Turun 0,13% ke Rp17.112 di Jumat Pagi

Ilustrasi. Foto: dok MI.

Rupiah Turun 0,13% ke Rp17.112 di Jumat Pagi

Husen Miftahudin • 10 April 2026 09:54

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan awal pekan ini mengalami penurunan.

Mengutip data Bloomberg, Jumat, 10 April 2026, rupiah hingga pukul 09.48 WIB berada di level Rp17.112 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 22 poin atau setara 0,13 persen dari Rp17.190 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.077 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp17.090 per USD hingga Rp17.140 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca juga: Harapan Gencatan Senjata Iran Seret Pelemahan Dolar AS
 

Ketegangan geopolitik kembali meningkat 


Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen gangguan di Selat Hormuz yang terus berlanjut dan ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah. Kondisi ini mengaburkan prospek pasokan, karena jalur penting yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak global sebagian besar tetap terblokir meskipun ada gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. 

"Pergerakan kapal yang terbatas dan terkontrol ketat telah dilanjutkan, tetapi gangguan pengiriman tetap ada, dengan Iran mempertahankan kendali signifikan atas transit dan akses," jelas Ibrahim.

Menurut dia, sentimen pasar semakin terganggu oleh meningkatnya serangan Israel di Lebanon, yang berisiko merusak gencatan senjata yang rapuh. Laporan menunjukkan jalur kapal tanker melalui selat dihentikan setelah serangan tersebut, meskipun pejabat AS memberi sinyal tanda-tanda awal pembukaan kembali sebagian.

Iran mengatakan pembicaraan damai dengan AS akan 'tidak masuk akal' setelah serangan terbaru, dengan alasan serangan tersebut melanggar ketentuan gencatan senjata yang baru diumumkan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran, yang memicu harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuz dan mengurangi hambatan pasokan.

Namun, para analis memperingatkan gangguan struktural pada rantai pasokan dan infrastruktur di seluruh wilayah tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan untuk diperbaiki.

Sementara itru, menurut risalah FOMC Maret yang dirilis pada Rabu, para pejabat Fed masih memperkirakan akan menurunkan suku bunga tahun ini, bahkan ditengah tingkat ketidakpastian yang tinggi dari perang Iran dan tarif.

"Para pembuat kebijakan menyatakan mereka perlu tetap 'gesit' saat mereka mempertimbangkan dampak perang terhadap inflasi, yang terus berada di atas target Fed, dan perekrutan tenaga kerja, yang sebagian besar stagnan selama setahun terakhir," urai Ibrahim.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Proyeksi ekonomi Indonesia turun


Di sisi lain, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7 persen, turun dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen. Meski direvisi turun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang hanya 4,2 persen. 

Prospek ekonomi kawasan dipengaruhi tiga faktor eksternal utama, yakni konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi, pembatasan perdagangan di Amerika Serikat serta ketidakpastian kebijakan global, dan perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI).

Sebelumnya, OECD juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Pertumbuhan diperkirakan berada di level 4,8 persen dari sebelumnya 5,0 persen. Revisi ini muncul di tengah tekanan global yang meningkat, terutama akibat lonjakan harga energi dan ketegangan geopolitik.

Pesimisme Bank Dunia dan OECD berbanding terbalik dengan pemerintah yang optimis memproyeksikan ekonomi 2026 tumbuh kuat di kisaran 5,4 persen sampai 5,7 persen, didorong oleh konsumsi domestik, investasi, dan program biodiesel B50, dengan optimisme mencapai enam persen melalui transformasi struktural.

"Fokusnya adalah kedaulatan pangan/energi, kebijakan fiskal pruden, dan percepatan investasi untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global," urai Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)