Begini Jurus BI Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Perang Timur Tengah

Rupiah. Foto: dok MI.

Begini Jurus BI Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Perang Timur Tengah

Husen Miftahudin • 17 March 2026 19:23

Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo Perry Warjiyo menyatakan akan terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang Timur Tengah.
 
Diketahui, nilai tukar rupiah pada 16 Maret 2026 tercatat sebesar Rp16.985 per dolar AS, melemah 1,29 persen (ptp) dibandingkan dengan level akhir Februari 2026 sejalan dengan pelemahan mata uang negara non-USD.
 
Perry menjelaskan, memburuknya kondisi global akibat perang Timur Tengah berdampak pada pelemahan nilai tukar dan keluarnya arus modal dari negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia.
 
"Guna tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi baik di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri," ungkap Perry dalam konferensi pers Pengumuman Hasil RDG Bulanan Maret 2026 secara daring, Selasa, 17 Maret 2026.
 

Baca juga: Demi Jaga Rupiah dan Inflasi, BI Masih Pertahankan Suku Bunga di Level 4,75%


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Optimalkan seluruh instrumen moneter

 
Selain itu, lanjut Perry, Bank Indonesia juga mengoptimalkan seluruh instrumen moneter untuk meningkatkan aliran masuk modal asing guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
 
Ke depan, berbagai upaya untuk memperkuat kinerja neraca pembayaran diharapkan dapat mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
 
"Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," tegas Perry.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)