Dolar AS Capai Level Tertinggi dalam Satu Bulan

Dolar AS. Foto: dok MI.

Dolar AS Capai Level Tertinggi dalam Satu Bulan

Husen Miftahudin • 24 July 2026 08:29

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Kamis waktu setempat. Penguatan ini didorong lonjakan harga minyak dunia yang membuat minyak mentah Brent kembali menembus level USD100 per barel, serta keputusan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mempertahankan suku bunga acuannya.
 
Mengutip Investing.com, Jumat, 24 Juli 2026, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,3 persen menjadi 101,46. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 25 Juni 2026.
 
Sementara mengutip Xinhua, euro tercatat melemah menjadi USD1,1377 dari USD1,1411 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris turun menjadi USD1,3318 dari USD1,3373 pada sesi sebelumnya.
 
Dolar AS dibeli seharga 163,80 yen Jepang, lebih tinggi dari 163,13 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS menguat menjadi 0,8169 franc Swiss dari 0,8146 franc Swiss.
 
Mata uang Negeri Paman Sam itu melemah menjadi 1,4076 dolar Kanada dari 1,4085 dolar Kanada. Dolar AS menguat menjadi 9,7663 krona Swedia dari 9,7014 krona Swedia.
 

 

Kenaikan harga minyak picu kekhawatiran inflasi

 
Penguatan dolar terjadi setelah harga minyak mentah Brent memperpanjang reli selama lima sesi berturut-turut dan kembali menembus USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei.
 
Kenaikan harga dipicu klaim kelompok Houthi di Yaman yang menyatakan telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global di tengah ketegangan yang masih berlangsung di sekitar Selat Hormuz.
 
Lonjakan harga minyak juga memicu kekhawatiran inflasi sehingga pelaku pasar kembali memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve melanjutkan kebijakan kenaikan suku bunga.
 
Selain itu, ekonomi AS dinilai lebih mampu menghadapi kenaikan biaya energi dibandingkan kawasan Eropa maupun Jepang, sehingga semakin memperkuat daya tarik dolar AS.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

ECB pertahankan suku bunga

 
ECB memutuskan mempertahankan tiga suku bunga acuannya, yakni suku bunga fasilitas simpanan di level 2,25 persen, suku bunga operasi pembiayaan utama sebesar 2,40 persen, dan suku bunga fasilitas pinjaman marjinal di level 2,65 persen.
 
Keputusan tersebut sesuai ekspektasi pasar setelah harga minyak sempat melemah pascakeputusan ECB pada Juni. Namun, meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran sepanjang bulan ini kembali mendorong kenaikan harga energi dan mengubah prospek inflasi.
 
Dalam pernyataannya, Dewan Gubernur ECB menyebut ketidakpastian masih tinggi dan dampak penuh kenaikan harga energi terhadap inflasi belum sepenuhnya terlihat. Bank sentral juga menegaskan kebijakan moneter akan tetap ditentukan berdasarkan perkembangan data ekonomi dan dievaluasi pada setiap pertemuan.
 
Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan keputusan mempertahankan suku bunga diambil secara bulat setelah seluruh anggota Dewan Gubernur mengevaluasi perkembangan ekonomi terbaru.
 
"Kami telah mencermati data dan perkembangan terbaru dengan saksama. Kami semua sepakat bahwa posisi kebijakan saat ini sudah memadai sehingga kami dapat menunggu sambil terus memperhatikan perkembangan situasi dan data dalam beberapa minggu ke depan," kata Lagarde.
 
Sementara itu, Kepala Ekonom Eropa Deutsche Bank Mark Wall menilai keputusan ECB pada Juli bukan menunjukkan keraguan, melainkan jeda sementara untuk memperbarui proyeksi ekonomi sebelum kemungkinan kembali menaikkan suku bunga pada September.

(Husen Miftahudin)