Ilustrasi tenaga kesehatan. Foto: Dok. Metrotvnews.com.
Viral Komentar Nirempati, Dokter PPDS RSUP Dr Sardjito Dinonaktifkan Sementara
Agus Utantoro • 6 August 2026 14:26
Yogyakarta: Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta menonaktifkan sementara seorang dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Dokter tersebut diduga memberikan komentar bernada nirempati di media sosial.
Manajer Hukum dan Humas RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Banu Hermawan menjelaskan, dokter yang memberikan komentar di media sosial merupakan peserta didik PPDS dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM).
"Dokter yang bersangkutan nanti akan kita proses di dalam Pendidikan Bermartabat terkait apa yang telah dilakukannya," kata Banu di Yogyakarta, Kamis, 6 Juli 2026.
Selan dinonaktifkan sementara, dokter tersebut juga akan menjalani proses evaluasi melalui mekanisme pendidikan yang berlaku.
Selain itu, Banu mengungkap komentar yang disampaikan merupakan unggahan pribadi dan tidak mewakili sikap maupun pandangan RSUP Dr. Sardjito. "Ini murni peserta didik yang mengunggah di media sosial secara personal," tuturnya.
Klarifikasi tersebut disampaikan setelah unggahan Yurizal ramai diperbincangkan di media sosial. Unggahan itu berisi keluhan terkait layanan kesehatan yang dialaminya sebelum meninggal dunia.
Pasien bernama Yurizal yang mengeluhkan harus menunggu delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap juga bukan merupakan pasien RSUP Dr. Sardjito. Yurizal merupakan pasien dari rumah sakit lain di luar Yogyakarta.
"Pasien tersebut bukan pasien dari RSUP Dr. Sardjito. Ini murni pasien di luar RSUP Dr. Sardjito," ucapnya.

RSUP Dr. Sardjito, Sleman, Yogyakarta. Foto: dok Hutama Karya.
Meski begitu, pihak rumah sakit tetap menjunjung tinggi nilai profesionalisme, etika, serta empati dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, termasuk dalam penggunaan media sosial oleh seluruh tenaga kesehatan.
"Mulai hari ini, yang bersangkutan sudah dinonaktifkan untuk mengikuti proses-proses yang terkait dengan Pendidikan Bermartabat. Karena kami, Sardjito dan FKKMK UGM ini sangat menjunjung tinggi mengenai penghormatan terhadap harkat martabat pasien dalam bentuk apa pun. Itu yang bisa kita sampaikan," jelasnya.
Peristiwa ini bermula ketika seorang pasien bernama Yurizal Tri mengunggah curahan hati di media sosial Threads. Dalam unggahannya, ia mengaku kesulitan mendapatkan ruang perawatan meski kondisi kesehatannya sudah kritis.
Alih-alih mendapat simpati, unggahan tersebut justru menuai komentar bernada menghina dari sejumlah akun yang diduga merupakan oknum tenaga kesehatan. Berbagai komentar kasar memenuhi kolom tanggapan hingga memicu kecaman warganet.