Pemprov Jabar Perkuat Mitigasi Cegah Karhutla Selama Kemarau

Ilustrasi: Petugas saat melaksanakan simulasi upaya pemadaman karhutla yang digelar di Majalengka, Jawa Barat, Selasa, 21 Juli 2026. ANTARA/Fathnur Rohman.

Pemprov Jabar Perkuat Mitigasi Cegah Karhutla Selama Kemarau

Silvana Febiari • 21 July 2026 16:07

Majalengka: Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) melalui Dinas Kehutanan memperkuat mitigasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau. Upaya dilakukan melalui edukasi masyarakat, penguatan koordinasi, serta kesiapsiagaan personel di lapangan.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Jabar Dodit Ardian Pancapana mengatakan penguatan mitigasi diperlukan agar kawasan hutan bisa terjaga kelestariannya.

"Di Jabar ini hutan sekitar 800 ribu hektare. Luasnya hampir kira-kira 50 kalinya luas Kota Bandung. Upaya penanaman dan pemeliharaan terus berjalan agar kecukupan tutupan hutan sesuai amanat 30 persen bisa terpenuhi," kata Dodit, dilansir dari Antara, Selasa, 21 Juli 2026. 
 


Selain meningkatkan tutupan hutan melalui penanaman dan pemeliharaan, upaya menjaga kawasan hutan dari berbagai gangguan juga terus diperkuat. Salah satunya mencegah kebakaran hutan saat musim kemarau.

"Yang sangat penting adalah upaya mempertahankan kondisi hutan yang ada dari berbagai macam gangguan, termasuk risiko bencana kebakaran hutan yang harus kita antisipasi," ujarnya.

Dodit mengatakan salah satu fokus mitigasi adalah mengubah kebiasaan masyarakat membakar sampah, jerami, maupun serasah. Aktivitas tersebut berisiko memicu karhutla, terutama saat musim kemarau.

"Upaya mengurangi volume sampah hutan, sampah sawah, maupun sisa pertanian, bisa dilakukan secara organik tanpa harus menggunakan api. Itu yang harus terus kita edukasi," ungkapnya.


Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Foto: Dok. MGN.


Pihaknya memperkuat kesiapsiagaan penanganan karhutla melalui pemanfaatan teknologi, peningkatan kemampuan personel, serta penguatan komunikasi dan koordinasi lintas instansi. Koordinasi tersebut melibatkan Kementerian Kehutanan (Kemenhut), para rimbawan, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta kelompok masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kawasan penyangga hutan.

Dodit mengatakan kejadian karhutla di Jabar bersifat fluktuatif dan dapat dipantau secara real time melalui aplikasi SiPongi milik Kemenhut. Trennya saat ini cenderung menurun.

Meski demikian, ia mengingatkan musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga Agustus 2026. Seluruh pemangku kepentingan, termasuk media, diminta terus mengedukasi masyarakat untuk menekan risiko karhutla.

"Saya mohon dibantu rekan-rekan media untuk terus mendorong sosialisasi kegiatan yang mengurangi risiko kebakaran hutan," ucap Dodit.

(Silvana Febiari)