Ilustrasi. Foto: Freepik.
Ketidakpastian Global Bikin Emas Melemah ke USD4.122
Eko Nordiansyah • 21 October 2026 08:18
Chicago: Harga emas dunia turun tipis dalam sesi perdagangan yang tidak menentu pada Selasa, 20 Oktober 2026, dengan harga spot mencatatkan penurunan selama tiga hari berturut-turut. Pelemahan dolar AS tidak mampu mengimbangi volatilitas harga minyak.
Harga emas sempat naik saat harga minyak melemah, namun kemudian perlahan kehilangan kenaikan tersebut dan berbalik turun seiring dengan harga minyak yang memangkas kerugiannya dan kembali menguat. Para pelaku pasar logam mulia juga bersikap hati-hati menjelang pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve minggu depan.
Dikutip dari Investing, Rabu, 21 Oktober 2026, harga emas spot turun 0,4 persen menjadi USD4.122,41 per ons, sementara harga emas berjangka turun tipis ke level USD4.141,01 per ons.
Dengan minimnya katalis lain selain pergerakan harga minyak, harga emas pada hari Selasa sangat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak mentah.
Pergerakan harga minyak yang tidak menentu
Harga minyak sempat melonjak pada pagi hari, sehari setelah harga minyak mentah Brent ditutup mendekati level tertinggi dalam lima bulan.Namun, mereka dengan cepat mengubah sikap setelah The New Arab melaporkan Qatar dan Pakistan telah menawarkan rencana "jalan tengah" kepada AS dan Iran yang memenuhi tuntutan kedua belah pihak, dengan mengutip sumber-sumber yang mengetahui upaya mediasi tersebut.
Menurut The New Arab, usulan tersebut menawarkan pencairan dana Iran senilai sekitar USD6 miliar yang tersimpan di bank-bank Qatar sebagai "tanggapan parsial" atas tuntutan Teheran untuk membuka akses terhadap aset-aset mereka.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Unplash)
The New Arab menambahkan bahwa usulan tersebut juga mencakup kesediaan Iran untuk mengizinkan kunjungan rahasia oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) ke situs-situs nuklirnya.
Akan tetapi, penurunan harga minyak tidak berlangsung lama. Harga perlahan memangkas kerugian dan kemudian kembali naik.
Kekhawatiran akan gangguan pasokan tetap tinggi di tengah meningkatnya serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, serta pertempuran sengit antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed
Para pedagang tengah menilai risiko bahwa harga energi yang lebih tinggi dapat menjaga inflasi tetap tinggi, yang pada gilirannya mendorong The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter restriktif dalam jangka waktu lebih lama.Lingkungan suku bunga tinggi cenderung melemahkan aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas. Kondisi ini juga cenderung memperkuat dolar AS, yang membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli asing.
Para pejabat The Fed diperkirakan secara luas akan mempertahankan suku bunga tidak berubah dalam pertemuan bank sentral pada 27–28 Oktober.
Menurut CME FedWatch, para pelaku pasar memperkirakan probabilitas sebesar 83 persen bahwa suku bunga akan dipertahankan pada pertemuan minggu depan, sementara peluang kenaikan suku bunga pada bulan Desember mencapai 94 persen.
Pada bulan September, The Fed menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dengan alasan perlunya meredam tekanan inflasi.
Gambaran terkini mengenai inflasi di Amerika Serikat akan segera diketahui akhir bulan ini melalui perilisan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), salah satu indikator pertumbuhan harga yang menjadi acuan utama The Fed.
Namun, data tersebut baru akan dipublikasikan setelah keputusan kebijakan terbaru The Fed diumumkan.
Data terbaru menunjukkan bahwa harga konsumen bulan lalu meningkat lebih tinggi dari perkiraan, terutama dipicu oleh lonjakan harga bensin dan solar. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa tingginya biaya energi dapat menghambat upaya The Fed dalam menurunkan inflasi menuju target dua persen.