Harga Emas Berpotensi Melemah, Ini Prediksinya untuk Pekan Depan

Ilustrasi emas batangan. Foto: shop.londongoldcentre.co.uk

Harga Emas Berpotensi Melemah, Ini Prediksinya untuk Pekan Depan

Husen Miftahudin • 2 October 2026 13:35

Jakarta: Harga emas masih menghadapi tekanan setelah mengalami penurunan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Memasuki perdagangan pekan depan, pergerakan XAU/USD akan dipengaruhi oleh arah dolar AS, Treasury yield, serta rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan analisis Dupoin Futures, harga emas pada timeframe H4 masih berada dalam tren bearish yang signifikan. Kondisi tersebut membuka peluang bagi harga emas untuk kembali melemah menuju area support USD4.110.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan harga emas berpotensi mengalami koreksi terlebih dahulu sebelum melanjutkan tren penurunan. Area Fibonacci 61,8 persen di level USD4.236 menjadi zona yang perlu diperhatikan karena berada pada area golden ratio retracement.

"Apabila harga kembali bergerak menuju level tersebut dan mengalami rejection, tekanan bearish berpotensi kembali menguat," ungkap Geraldo dalam analisis hariannya, Jumat, 2 Oktober 2026.

Dalam skenario tersebut, jelas dia, harga emas berpeluang melanjutkan penurunan menuju zona support terdekat di USD4.110. Level USD4.236 menjadi area penting untuk melihat apakah koreksi yang terjadi hanya bersifat sementara atau berkembang menjadi pembalikan tren.

"Selama harga belum mampu melewati area USD4.236 secara meyakinkan, struktur bearish pada timeframe H4 masih menjadi perhatian," papar dia.

Menurut Geraldo, struktur H4 masih menunjukkan tekanan bearish yang perlu dicermati. Jika terjadi rebound pada awal pekan, area USD4.236 menjadi salah satu level penting. Rejection dari area Fibonacci 61,8 persen tersebut dapat membuka peluang bagi XAU/USD untuk kembali bergerak menuju USD4.110.
 



(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Data NFP jadi katalis harga emas


Dari sisi fundamental, pasar emas pekan depan akan menghadapi katalis penting dari data Nonfarm Payrolls (NFP) AS. Data tenaga kerja menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve sekaligus menentukan arah dolar AS dan Treasury yield.

Jika NFP menunjukkan perlambatan pasar tenaga kerja yang lebih besar dari perkiraan, terutama disertai kenaikan tingkat pengangguran atau pertumbuhan upah yang lebih rendah, kondisi tersebut dapat menekan dolar AS dan Treasury yield. Skenario ini berpotensi memberikan ruang bagi emas untuk mengalami pemulihan.

Sebaliknya, data tenaga kerja yang lebih kuat dapat meningkatkan ekspektasi pasar jika Federal Reserve masih memiliki alasan untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap XAUUSD.

Adapun harga emas berada di sekitar USD4.154,78 per troy ons pada Jumat dan turun 0,6 persen. Harga emas juga berada di jalur penurunan lebih dari tiga persen sepanjang pekan. Penguatan dolar AS dan kenaikan Treasury yield menjadi faktor yang membebani harga emas menjelang rilis data payrolls.

Tekanan tersebut semakin terlihat setelah yield Treasury AS bertenor 10 tahun sempat mencapai 5,344 persen, level tertinggi sejak 2002. Yield kemudian turun ke sekitar 5,25 persen. Pada saat yang sama, indeks dolar AS berada di sekitar 102 dan mencapai level tertinggi dalam 17 bulan.

Meski demikian, kondisi fundamental emas tidak sepenuhnya menunjukkan tekanan. Reuters mencatat emas masih mampu bertahan di atas USD4.000 per troy ons meskipun yield obligasi AS meningkat tajam. Permintaan dari bank sentral dan faktor diversifikasi cadangan menjadi salah satu faktor struktural yang masih menopang harga emas.

"Analisis harga emas pekan depan masih menunjukkan potensi pelemahan dalam skenario bearish. Namun, hasil NFP serta respons dolar AS dan Treasury yield akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah tekanan tersebut berlanjut atau emas memperoleh momentum pemulihan," tutup Geraldo.

(Husen Miftahudin)