Ilustrasi emas batangan. Foto: bullionvault.com
Harga Emas Masih Tertekan, Berpotensi Turun ke Area USD4.096
Husen Miftahudin • 10 June 2026 11:17
Jakarta: Harga emas dunia masih menghadapi tekanan pada perdagangan pekan ini, seiring kuatnya sentimen bearish yang mendominasi pasar. Kombinasi faktor teknikal dan fundamental membuat peluang pelemahan harga emas masih terbuka, terutama dalam jangka menengah hingga panjang.
Berdasarkan analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh analis Geraldo Kofit, pelaku pasar kini mencermati sejumlah level support penting yang berpotensi menjadi target penurunan berikutnya apabila tekanan jual terus berlanjut.
Geraldo menjelaskan, pergerakan XAU/USD pada timeframe weekly masih menunjukkan struktur tren turun yang kuat. Tekanan jual kembali terlihat pada awal sesi perdagangan, menandakan dominasi seller masih belum berakhir dan pasar belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang signifikan.
"Secara teknikal, harga emas masih bergerak dalam pola downtrend yang konsisten baik pada timeframe daily maupun weekly. Kondisi ini mengindikasikan setiap kenaikan yang terjadi sejauh ini masih cenderung bersifat sementara dan belum cukup kuat untuk mengubah arah tren utama yang masih menurun," jelas Geraldo dalam analisis harian, Rabu, 10 Juni 2026.
Menurut Geraldo, pelemahan yang terjadi saat ini berpotensi menjadi bagian dari kelanjutan secondary trend yang membawa harga menuju area support yang lebih rendah. Selama struktur bearish masih terjaga dan belum ada sinyal reversal yang valid, peluang penurunan lebih lanjut masih perlu diwaspadai oleh investor maupun trader.
Dalam proyeksi teknikalnya, area support pertama berada di kisaran USD4.096 per troy ons. Level tersebut menjadi target terdekat yang berpotensi diuji pasar dalam beberapa waktu mendatang. Jika tekanan jual masih berlanjut dan support tersebut gagal bertahan, maka harga emas berpotensi melanjutkan penurunan menuju area support berikutnya di sekitar USD3.884 per troy ons.
Sinyal pelemahan juga terlihat dari indikator stochastic yang masih bergerak di area oversold atau jenuh jual. Meskipun kondisi oversold sering kali dianggap sebagai area yang berpotensi memicu rebound, hingga saat ini indikator tersebut belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah yang kuat.
"Dengan kata lain, momentum bearish masih mendominasi dan belum ada konfirmasi tren turun telah berakhir," papar dia.
| Baca juga: Harga Emas Dunia Ambles Hampir 2%, Data Inflasi AS Jadi Sorotan |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Dolar AS masih perkasa
Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas masih berasal dari kuatnya dolar Amerika Serikat dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury Yield. Kedua faktor tersebut selama ini menjadi salah satu hambatan utama bagi penguatan emas.
Ketika dolar AS menguat, harga emas cenderung menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Akibatnya, permintaan terhadap logam mulia ini dapat berkurang dan memberikan tekanan pada harga.
Di saat yang sama, jelas Geraldo, tingginya imbal hasil obligasi membuat investor lebih tertarik menempatkan dana pada instrumen yang menawarkan return tetap dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
"Pasar juga masih menilai Federal Reserve belum memiliki alasan yang cukup kuat untuk segera memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Selama data ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan kondisi yang relatif solid, terutama dari sektor tenaga kerja dan inflasi, ekspektasi suku bunga tinggi berpotensi tetap bertahan," papar dia.
Harapan suku bunga akan berada di level tinggi untuk periode yang lebih lama memberikan dukungan terhadap dolar AS dan menjaga imbal hasil obligasi tetap tinggi. Situasi tersebut pada akhirnya menjadi faktor yang kurang menguntungkan bagi harga emas.
Selain itu, permintaan terhadap aset safe haven juga mulai berkurang seiring membaiknya sentimen terhadap ekonomi Amerika Serikat. Ketika investor merasa lebih optimistis terhadap prospek ekonomi dan pasar keuangan, minat terhadap aset perlindungan seperti emas biasanya cenderung menurun.
Kondisi tersebut membuat aliran dana yang sebelumnya masuk ke pasar emas mulai beralih ke aset lain yang dianggap memiliki potensi keuntungan lebih besar. Akibatnya, tekanan jual pada emas masih berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Emas masih bearish dalam jangka menengah
Secara keseluruhan, analisis Dupoin Futures yang disampaikan Geraldo menilai prospek emas masih cenderung bearish dalam jangka menengah.
Selama belum ada katalis positif yang mampu mengubah sentimen pasar, kombinasi antara kuatnya dolar AS, tingginya yield obligasi, serta struktur teknikal yang masih menunjukkan downtrend membuka peluang bagi XAU/USD untuk melanjutkan pelemahan menuju area support USD4.096 per troy ons hingga USD3.884 per troy ons.
Investor dan pelaku pasar disarankan untuk tetap memperhatikan perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan Federal Reserve, serta dinamika pasar global yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga emas dalam beberapa pekan mendatang.