Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie)/Foto Metrotvnews
Rerie Dorong Strategi Komprehensif Percepatan Peningkatan Kompetensi Guru
Muhamad Marup • 10 July 2026 16:35
Jakarta: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) mendorong upaya percepatan penguatan kompetensi guru untuk mewujudkan pendidikan yang inklusif. Menurutnya, langkah tersebut harus didukung dengan data yang akurat dan strategi yang komprehensif.
"Perlu strategi yang komprehensif untuk mempercepat kompetensi guru dalam menjalankan sistem pendidikan yang inklusif," kata Rerie, dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 10 Juli 2026.
Ia menilai, saat ini kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan guru kompeten di lapangan masih sangat tinggi. Hal ini jadi hambatan serius terutama bagi guru yang mengajar anak berkebutuhan khusus.
Data Kemendikdasmen per September 2025 mencatat, terdapat 363.921 murid penyandang disabilitas di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, 199.375 murid belajar di 60.910 satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif (SPPI).
Namun, hanya sekitar 15 persen dari total SPPI yang memiliki Guru Pembimbing Khusus (GPK). Ia meminta peningkatan jumlah guru yang mampu mendidik anak berkebutuhan khusus harus segera direalisasikan.
"Ini bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas kompetensi yang harus dikejar," tegasnya.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Foto: Istimewa.
Percepatan kompetensi ini, menurut Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI dari Dapil Jateng II itu, membutuhkan langkah-langkah nyata dan terukur. Ia mendukung penuh program pemerintah yang menargetkan pelatihan bagi 1.500 guru di 25 provinsi sepanjang tahun 2026 untuk mencapai tingkat mahir.Namun, Rerie mengingatkan bahwa target tersebut baru sebagian kecil dari kebutuhan nasional. Ia meminta pemerintah harus lebih konsisten dan agresif.
Apalagi, tambah dia, berdasarkan data Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), saat ini tercatat 2.663 guru telah memenuhi syarat sebagai kandidat peserta, dengan potensi tambahan hingga 5.129 calon peserta baru melalui skema penyetaraan.
"Program pelatihan yang diluncurkan Kemendikdasmen adalah langkah awal yang baik, tetapi jangan berhenti di situ. Kita perlu melihat rasio ideal," katanya.
Anggota Majelis Tinggi Partai Nasdem itu menekankan bahwa peningkatan kompetensi guru tidak boleh hanya bersifat teknis semata. Guru adalah agen perubahan yang harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif sangat ditentukan oleh kemampuan guru untuk memahami kebutuhan setiap anak dan menyesuaikan metode pembelajaran, bukan sebaliknya.
"Mereka harus mendapat dukungan semua pihak agar mampu menerjemahkan filosofi pendidikan nasional ke dalam praktik pembelajaran yang inklusif dan adaptif, terutama di era digital ini," pungkas Rerie.