Ilustrasi, bendera Jepang. Foto: Freepik.
Redam Risiko Inflasi, Bank Sentral Jepang Bakal Kerek Suku Bunga
Richard Alkhalik • 17 April 2026 13:56
Tokyo: Bank Sentral Jepang diproyeksikan akan mengerek suku bunga acuan ke level satu persen, selambat-lambatnya pada akhir Juni 2026. Berdasarkan hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters menunjukkan mayoritas ekonom telah memprediksi langkah tersebut mengingat ketidakpastian ekonomi imbas eskalasi konflik di Timur Tengah.
Melansir CNA, Jumat, 17 April 2026, menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Jepang pada 27-28 April 2026, saat ini para pelaku pasar tengah diliputi sikap kehati-hatian. Terbatasnya panduan ke depan dari para pembuat kebijakan membuat pasar kesulitan membaca arah, sehingga secara signifikan memperbesar risiko terjadinya kejutan kebijakan.
Para ekonom menilai kebijakan moneter yang akan diambil bank sentral adalah akan kembali memperketat kebijakan moneter pada kuartal ini, pandangan yang sebagain besar tidak berubah sejak meletusnya konflik antara AS-Israel dan Iran pada akhir Februari lalu. Konflik tersebut memicu kekhawatiran akan lonjakan harga energi global, kembalinya tekanan inflasi domestik, serta depresiasi nilai tukar yen yang kian dalam.
Survei yang dihimpun pada periode 7-14 April menunjukkan sebanyak 65 persen ekonom (46 dari 71 responden) memproyeksikan suku bunga kebijakan akan menyentuh satu persen pada akhir Juni. Angka tersebut naik dari level 60 persen pada Maret dan 58 persen pada Februari. Dari 40 ekonom yang memberikan spesifikasi waktu, probabilitas eksekusi pada April mencapai 38 persen, bersaing ketat dengan opsi Juni sebesar 35 persen diikuti April dengan 27 persen.
Melansir CNA, Jumat, 17 April 2026, menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Jepang pada 27-28 April 2026, saat ini para pelaku pasar tengah diliputi sikap kehati-hatian. Terbatasnya panduan ke depan dari para pembuat kebijakan membuat pasar kesulitan membaca arah, sehingga secara signifikan memperbesar risiko terjadinya kejutan kebijakan.
Para ekonom menilai kebijakan moneter yang akan diambil bank sentral adalah akan kembali memperketat kebijakan moneter pada kuartal ini, pandangan yang sebagain besar tidak berubah sejak meletusnya konflik antara AS-Israel dan Iran pada akhir Februari lalu. Konflik tersebut memicu kekhawatiran akan lonjakan harga energi global, kembalinya tekanan inflasi domestik, serta depresiasi nilai tukar yen yang kian dalam.
Survei yang dihimpun pada periode 7-14 April menunjukkan sebanyak 65 persen ekonom (46 dari 71 responden) memproyeksikan suku bunga kebijakan akan menyentuh satu persen pada akhir Juni. Angka tersebut naik dari level 60 persen pada Maret dan 58 persen pada Februari. Dari 40 ekonom yang memberikan spesifikasi waktu, probabilitas eksekusi pada April mencapai 38 persen, bersaing ketat dengan opsi Juni sebesar 35 persen diikuti April dengan 27 persen.
| Baca juga: Jepang Kucurkan Dana USD10 Miliar Bantu ASEAN Atasi Krisis Energi |
Cegah pelemahan yen lebih lanjut
Kepala Strategi T&D Asset Management Hiroshi Namioka menilai peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat masih sangat terbuka. Ia mengatakan para pembuat kebijakan diimbau waspada agar tidak ketinggalan karena pelemahan nilai mata uang yen yang telah terdepresiasi sekitar dua persen terhadap dolar AS sejak eskalasi konflik dimulai.
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Ekonom Senior Junki Iwahashi di Sumitomo Mitsui Trust Bank yang menilai langkah menaikkan suku bunga pada bulan ini sangat berisiko. Ia memperkirakan kenaikan suku bunga akan terjadi pada Juni 2026.
"Meskipun lonjakan harga minyak mentah yang disebabkan oleh memburuknya kondisi di Timur Tengah akan mendorong inflasi untuk sementara waktu melalui tekanan biaya produksi, hal itu juga akan membebani perekonomian, sehingga keputusan kenaikan suku bunga menjadi sulit," jelas Iwahashi.

(Ilustrasi aktivitas perekonomian di Jepang. Foto: Freepik)
Tekan kenaikan inflasi
Menilik proyeksi jangka menengah, nilai median survei mengestimasikan Bank Sentral Jepang akan kembali menaikkan biaya pinjaman ke level 1,25 persen pada kuartal keempat tahun ini. Siklus pengetatan ini diproyeksikan berlanjut hingga menyentuh puncaknya di 1,50 persen pada kuartal ketiga 2027, meskipun beberapa pihak memperkirakan kenaikan menjadi 1,75 persen.
Langkah Bank Sentral Jepang ini dinilai sangat beralasan, mengingat laju inflasi Jepang yang tetap di atas target selama nyaris empat tahun. Bank Sentral Jepang telah menyiapkan untuk kenaikan suku bunga dalam waktu dekat dengan menyoroti tekanan harga yang meningkat
Suku bunga acuan Bank Sentral Jepang yang berada di level 0,75 persen dinilai masih berada jauh di bawah tingkat suku bunga netral, batas di mana kebijakan tidak merangsang maupun membatasi perekonomian. Dengan inflasi di kisaran dua persen berisiko menyebabkan perekonomian terlalu panas dengan mempertahankan biaya pinjaman riil yang sangat negatif.
Kekhawatiran gejolak rantai pasok energi
Kendati demikian, gejolak rantai pasok energi dikhawatirkan akan mengaburkan prospek perekonomian Jepang yang sangat bergantung pada impor. Sebanyak 62 persen (18 dari 29 responden) memproyeksikan tensi Timur Tengah akan mengerek Indeks Harga Konsumen inti sebesar 0,2 hingga 0,4 poin persentase dalam 12 bulan ke depan.
Meski seluruh responden sepakat konflik tersebut tidak akan menyeret Jepang ke dalam jurang resesi, estimasi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan pada kuartal kedua dan ketiga diturunkan secara tajam.
Ekonomi Jepang diproyeksi tumbuh sebesar 0,4 persen pada kuartal kedua dari estimasi bulan lalu di angka 1,1 persen pada jajak pendapat Maret dan mencatat pertumbuhan 0,7 persen pada kuartal ketiga melambat dari 1,2 persen. Mayoritas responden menyatakan risiko ancaman stagflasi masih tergolong rendah atau sangat rendah.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com