Ilustrasi emas batangan. Foto: en.trend.az
Harga Emas Anjlok Nyaris 2%, Tertekan Dolar AS dan Spekulasi The Fed
Husen Miftahudin • 24 June 2026 10:20
Chicago: Harga emas dunia turun hampir dua persen pada perdagangan Selasa waktu setempat, tertekan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya spekulasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve.
Mengutip Investing.com, Rabu, 24 Juni 2026, harga emas spot sebagai harga pasar emas dunia saat ini, turun 1,9 persen menjadi USD4.110,11 per ons.
Sementara emas berjangka sebagai patokan harga emas dunia untuk kontrak beli atau jual emas di masa depan, melemah 1,8 persen ke level USD4.129,00 per ons.
Tekanan terhadap emas juga muncul di tengah meredanya sentimen risiko global, setelah aksi jual besar-besaran saham teknologi menutupi kekhawatiran geopolitik serta penurunan harga minyak.
| Baca juga: Harga Emas Masih Tertekan, Analis Waspadai Pelemahan hingga USD4.024 |
Ekspektasi kenaikan suku bunga Fed meningkat
Pelaku pasar logam mulia masih mencermati hasil pertemuan terbaru The Fed. Bank sentral AS pada Rabu pekan lalu merilis Summary of Economic Projections (SEP) yang dinilai lebih agresif dibanding perkiraan sebelumnya.
Pembaruan proyeksi atau dot plot menunjukkan setidaknya separuh peserta Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) kini memperkirakan kenaikan suku bunga tahun ini untuk mengantisipasi tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak yang dipicu konflik Iran.
Meski harga minyak terkoreksi dalam beberapa pekan terakhir, proyeksi kebijakan moneter kini mengarah pada setidaknya satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026. Sebelumnya, proyeksi justru menunjukkan peluang dua kali pemangkasan suku bunga.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC Juli melonjak menjadi lebih dari 36 persen, dari 8,5 persen sepekan sebelumnya. Untuk pertemuan Desember, pasar juga meningkatkan ekspektasi terhadap potensi kenaikan suku bunga yang lebih agresif.
Kondisi suku bunga yang tinggi umumnya menekan aset tanpa imbal hasil seperti emas. Pada saat yang sama, penguatan dolar AS membuat harga emas semakin mahal bagi pemegang mata uang lain.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Ketidakpastian Iran masih jadi faktor risiko
Di sisi lain, pasar juga mencermati perkembangan negosiasi nuklir Iran. Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tingkat tinggi tanpa batas waktu sebagai bagian dari negosiasi.
Trump juga menyebut langkah itu menjadi dasar persetujuannya untuk menjaga Strait of Hormuz tetap terbuka tanpa blokade tambahan. Namun, pemerintah Iran membantah telah membuat kesepakatan inspeksi dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Pernyataan yang saling bertolak belakang tersebut menambah ketidakpastian geopolitik dan tetap menjadi faktor yang diawasi investor dalam pergerakan harga emas global.