Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Ditutup ke Rp17.753/USD Kamis Sore
Eko Nordiansyah • 17 September 2026 16:38
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan suku bunga The Fed.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 17 September, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.753 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 57 poin atau setara 0,32 persen dari posisi Rp17.696 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.743 per USD. Rupiah juga melemah sebanyak 36 poin atau setara 0,20 persen dari Rp17.707 per USD di pembukaan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.753 per USD. Rupiah bergerak menguat dibandingkan dengan perdagangan pada pekan sebelumnya yang di level Rp17.712 per USD.
.jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Tekanan dari kenaikan suku bunga The Fed
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi keputusan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR).“Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan secara bulat untuk menaikkan suku bunga acuan federal funds rate ke kisaran 3,75 persen hingga 4,0 persen pada hari Rabu (16/9). Ini merupakan kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sejak Juli 2023,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, dikutip dari Antara
Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kekhawatirannya mengenai inflasi, dengan menyatakan bahwa terlalu banyak kategori produk dan layanan yang menunjukkan kenaikan harga tahunan di atas 3 persen dalam periode 6 dan 12 bulan.
Karena itu, Warsh mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut pada suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
“Namun, Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu (16/9) menuntut bank sentral AS memangkas suku bunga menjadi satu persen atau lebih rendah, beberapa jam setelah The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga pertamanya sejak 2023. (Ini menunjukkan) gesekan yang terus berlanjut antara Gedung Putih dan The Fed yang independen,” ucap Ibrahim.