Kondisi retak dan amblasnya Jalan Kampung Kramat di Kelurahan Setu, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (26/2/2026). ANTARA/Siti Nurhaliza
Jembatan di Setu Jaktim Amblas Dipicu Faktor Usia dan Gerusan Air
Siti Yona Hukmana • 26 February 2026 11:23
Jakarta: Jembatan penghubung antarprovinsi di Kampung Kramat, Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, retak dan mulai amblas. Keretakan diduga dipicu faktor usia bangunan dan gerusan air di bagian bawah struktur jembatan.
"Diduga memang jembatan ini sudah berusia dan ada rongga di bawah yang sudah tergerus air, sehingga menyebabkan retaknya di atas jembatan ini," kata Lurah Setu Dwi Widiastuti seperti dilansir dari Antara, Kamis, 26 Februari 2026.
Dwi mengatakan, retakan awal mulai terlihat sekitar dua minggu lalu. Seiring waktu, kondisi jembatan kian memburuk hingga terjadi penurunan pada badan jalan.
Jembatan tersebut diketahui merupakan penghubung wilayah Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat, tepatnya Bekasi. Selain menjadi akses antarprovinsi, jalur ini juga dikenal sebagai rute tercepat bagi warga, sehingga cukup padat dilalui kendaraan setiap harinya. Meski tersedia jalur alternatif seperti melalui Tol PLN dan Jalan Kapuk–Sumir, banyak pengendara tetap memilih jalur ini karena lebih efisien waktu tempuhnya.
"Iya ini jembatan penghubung antarprovinsi. Ada beberapa rute, rute lain ya mungkin dari yang melintas tol, ada Tol PLN, Jalan Kapuk Sumir, tapi memang ini yang lebih cepat, jadi lebih padat," jelas Dwi.

Kondisi retak dan amblasnya Jalan Kampung Kramat di Kelurahan Setu, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (26/2/2026). ANTARA/Siti Nurhaliza
Saat ini, kondisi jembatan dinilai semakin mengkhawatirkan. Permukaan jalan terlihat retak dan mengalami penurunan di beberapa titik. Dwi mengimbau warga untuk berhati-hati saat melintas dan mematuhi pembatasan yang telah ditetapkan demi keselamatan bersama.
Sebelumnya, sebagian warga mengeluhkan kerusakan Jalan Kampung Kramat di Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur (Jaktim) yang mengalami retak hingga amblas. Salah seoang warga Suprianto, 42 kerusakan bermula dari retakan kecil yang sudah terlihat sebelumnya dan terus melebar hingga kondisi jalan menjadi seperti sekarang.
"Ini sudah satu mingguan ke sini. Awalnya memang retak-retak di sini, jadi perlahan retak-retak sehingga terjadi seperti ini keadaan jalannya," kata Suprianto.