Harga Emas Dunia Masih Berpotensi Menguat, Diramal Bisa Tembus USD5.200

Ilustrasi emas batangan. Foto: bullionvault.com

Harga Emas Dunia Masih Berpotensi Menguat, Diramal Bisa Tembus USD5.200

Husen Miftahudin • 10 February 2026 10:29

Jakarta: Harga emas dunia (XAU/USD) masih menunjukkan performa yang solid pada perdagangan awal pekan ini, meskipun diwarnai fluktuasi jangka pendek akibat dinamika sentimen pasar global. Emas tercatat tetap menguat selama sesi Amerika Utara pada Senin, 9 Februari 2026, diperdagangkan di kisaran USD5.074 per troy ons atau naik sekitar 2,16 persen.

Penguatan tersebut dipicu oleh laporan otoritas Tiongkok yang merekomendasikan lembaga-lembaga keuangan domestik untuk mengurangi eksposur terhadap obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS). Langkah ini diambil menyusul meningkatnya volatilitas di pasar obligasi AS, yang kemudian mendorong aliran dana ke aset lindung nilai seperti emas.

Namun, pada sesi awal Asia Selasa (10/2), harga emas sempat mengalami koreksi ringan dan bergerak di dekat area USD5.035. Tekanan ini muncul seiring membaiknya sentimen risiko global dan aksi ambil untung setelah kenaikan tajam dua hari sebelumnya.

Reli pasar saham, khususnya di AS, membuat sebagian investor kembali mengalihkan dana ke aset berisiko. Indeks S&P 500 tercatat memperpanjang penguatannya dan mendekati level tertinggi sepanjang masa, sehingga mengurangi daya tarik emas dalam jangka sangat pendek.

Meski demikian, menurut analisis Dupoin Futures yang disampaikan Andy Nugraha, koreksi yang terjadi saat ini masih bersifat teknikal dan tidak mengubah struktur tren utama. Berdasarkan kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average, Andy menilai tren bullish pada XAU/USD masih sangat kuat.

"Harga emas masih bergerak di atas rata-rata pergerakan utama, mencerminkan dominasi buyer yang belum terganggu secara signifikan. Selama harga mampu bertahan di atas area support kunci, peluang kelanjutan tren naik tetap terbuka," jelas Andy dikutip dari analisis hariannya, Selasa, 10 Februari 2026.

Dalam proyeksi pergerakan hari ini, Andy menyebutkan jika tekanan bullish kembali berlanjut, XAU/USD berpotensi melanjutkan penguatannya menuju area USD5.232. Level tersebut menjadi target kenaikan berikutnya yang cukup realistis melihat kuatnya momentum dan sentimen permintaan emas global.

Namun, ia juga mengingatkan volatilitas tetap tinggi. Jika harga gagal mempertahankan momentum dan terjadi koreksi yang lebih dalam, potensi penurunan terdekat berada di sekitar level USD4.841, yang berfungsi sebagai area support penting.
 

Baca juga: Harga Emas Dunia Naik 1,2% Jadi USD5.030/Ons


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Investor pelototi data ekonomi AS


Dari sisi fundamental, potensi penurunan harga emas dinilai relatif terbatas. Data terbaru menunjukkan bahwa Bank Rakyat China (PBOC) kembali menambah cadangan emasnya untuk bulan ke-15 berturut-turut pada Januari.

Cadangan emas Tiongkok naik menjadi 74,19 juta ons troy murni, menegaskan permintaan struktural yang kuat dari bank sentral. Pembelian berkelanjutan ini menjadi penopang utama harga emas di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Fokus pelaku pasar kini juga tertuju pada rilis data ekonomi penting AS, khususnya laporan ketenagakerjaan Januari dan data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI). Ekspektasi pasar memperkirakan penambahan sekitar 70 ribu lapangan kerja dengan tingkat pengangguran bertahan di 4,4 persen.

Data yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi menekan dolar AS, yang saat ini sudah melemah dengan Indeks Dolar turun ke level 96,94. Kondisi ini dapat memberikan dorongan tambahan bagi emas, meskipun imbal hasil obligasi AS yang relatif stabil di sekitar 4,208 persen masih menjadi faktor penahan kenaikan lebih agresif.

Secara keseluruhan, Andy menilai prospek harga emas masih cenderung positif. Kombinasi tren teknikal yang bullish, permintaan bank sentral yang kuat, serta potensi pelemahan dolar AS membuat emas tetap menarik sebagai instrumen lindung nilai.

"Selama volatilitas pasar global dan ketidakpastian kebijakan moneter belum sepenuhnya mereda, emas diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan tren penguatannya dalam waktu dekat," tutup dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)