Rupiah Jumat Sore ke Rp17.880/USD

Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.

Rupiah Jumat Sore ke Rp17.880/USD

Ade Hapsari Lestarini • 29 May 2026 17:27

Jakarta: Kurs rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan sore ini terpantau turun. Mata uang Garuda itu turun dibandingkan perdagangan pagi.

Mengacu data Bloomberg, Jumat, 29 Mei 2026, rupiah turun hingga 35 poin atau setara 0,20 persen ke posisi Rp17.845 per USD jika dibandingkan perdagangan pagi yang berada di posisi Rp17.855 per USD.

Sementara berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah terpantau ditutup menjadi Rp17.865 per USD. Angka ini turun 81 poin atau setara 0,46 persen dari sebelumnya.

Adapun data informasi kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah masih berada di posisi Rp17.883 per USD. JISDOR adalah kurs referensi bank sentral yang digunakan sebagai dasar transaksi perdagangan berbasis valuta asing.
 




Ilustrasi. Foto: dok MI.
 

Harga minyak jadi faktor turunnya rupiah


Melansir Antara, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini disebabkan harga minyak dunia yang sangat fluktuatif.

"Harga minyak tetap sangat fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir karena pasar bereaksi terhadap berita utama yang saling bertentangan seputar negosiasi gencatan senjata," katanya dalam keterangan tertulis.

Untuk diketahui, sentimen pasar sempat membaik pasca muncul laporan Washington dan Teheran telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Sementara negosiasi terus berlanjut mengenai program nuklir Iran dan isu-isu keamanan regional.

Prospek gencatan senjata ini mengurangi kekhawatiran atas kekurangan pasokan langsung dan mendukung harapan aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dapat secara bertahap kembali normal.

Namun, lalu lintas melalui jalur air strategis tersebut tetap jauh di bawah tingkat sebelum konflik, sehingga premi risiko geopolitik tetap berdampak ke pasar minyak.

Sentimen lain berasal dari data-data ekonomi AS seperti inflasi dan pertumbuhan yang tak sesuai perkiraan turut memperkuat ekspektasi Federal Reserve mungkin akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Adapun dari domestik, kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunga di level tinggi memicu larinya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS (seperti obligasi) yang menawarkan imbal hasil lebih menarik," ujar Ibrahim.

(Ade Hapsari Lestarini)