Harga Emas Berpotensi Turun, Simak Proyeksinya di Sini!

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Emas Berpotensi Turun, Simak Proyeksinya di Sini!

Husen Miftahudin • 26 May 2026 11:15

Jakarta: Harga emas dunia diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, melihat pergerakan XAU/USD pada timeframe daily masih menunjukkan tren bearish atau kecenderungan turun yang cukup kuat.

Secara teknikal, harga emas saat ini masih tertahan di bawah area Moving Average (MA) 21 dan MA 50. Kedua area tersebut masih berfungsi sebagai resistance atau batas atas yang cukup kuat sehingga membuat harga emas kesulitan untuk kembali naik.

"Kondisi ini menunjukkan momentum kenaikan emas masih belum cukup besar untuk mengubah arah tren utama. Selama harga masih bergerak di bawah area tersebut, tekanan jual diperkirakan masih akan mendominasi pasar," jelas Geraldo, dikutip dari analisis hariannya, Selasa, 26 Mei 2026.

Pada perdagangan sebelumnya, pergerakan harga emas juga terlihat relatif tenang dengan volatilitas yang tidak terlalu besar. Hal ini terjadi karena minimnya data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang biasanya menjadi penggerak utama pasar.

Karena tidak ada sentimen besar yang mampu mendorong harga naik, pelaku pasar cenderung kembali melakukan aksi jual pada sesi perdagangan pagi ini. Situasi tersebut membuat harga emas masih berada dalam tekanan.

Selain itu, lanjut Geraldo, secara teknikal XAU/USD juga masih memiliki peluang untuk menutup area gap yang terbentuk di awal pekan. Gap biasanya muncul ketika ada selisih harga pembukaan pasar dibandingkan harga penutupan sebelumnya. Dengan kondisi saat ini, harga emas diperkirakan masih berpotensi turun menuju area support pertama di level USD4.483 sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.

"Selama harga belum mampu menembus area MA 21 dan MA 50, maka tren bearish masih cenderung kuat. Oleh karena itu, peluang penurunan lanjutan masih perlu diperhatikan oleh pelaku pasar," jelas dia.
 

Baca juga: Harga Emas Dunia Melonjak 1,1%


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Ekspektasi suku bunga Fed tinggi bertahan lebih lama


Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas juga dipengaruhi oleh ekspektasi pasar suku bunga Amerika Serikat (AS) masih akan bertahan tinggi lebih lama. Kondisi tersebut membuat dolar AS tetap kuat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS masih berada di level tinggi. Situasi ini biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas.

Ketika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor global sehingga minat beli cenderung berkurang. Selain itu, tingginya yield obligasi juga membuat investor lebih tertarik pada instrumen yang memberikan imbal hasil tetap dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga.

"Minimnya data ekonomi penting dalam waktu dekat juga membuat pasar kehilangan sentimen kuat untuk mengangkat harga emas. Akibatnya, banyak pelaku pasar memilih menunggu dan belum berani mengambil posisi besar," papar Geraldo.

Di sisi lain, perhatian investor saat ini masih tertuju pada arah kebijakan Federal Reserve, terutama terkait suku bunga, inflasi, dan kondisi tenaga kerja Amerika Serikat. Selama belum ada sinyal yang lebih dovish dari The Fed atau tanda suku bunga akan mulai diturunkan, maka tekanan terhadap harga emas diperkirakan masih akan berlanjut.

"Meski begitu, pasar tetap berpotensi bergerak fluktuatif tergantung perkembangan data ekonomi global dan pernyataan terbaru dari pejabat bank sentral AS," urai dia.

Secara keseluruhan, harga emas saat ini masih berada dalam fase pelemahan dengan tekanan bearish yang cukup dominan. Selama belum ada katalis baru yang mampu mengangkat harga, XAU/USD diperkirakan masih berpotensi bergerak turun menuju area support USD4.483 dalam jangka pendek.

"Karena itu, investor disarankan tetap berhati-hati dan memperhatikan perkembangan sentimen global yang dapat memengaruhi arah pergerakan harga emas selanjutnya," ucap Geraldo mengingatkan.

(Husen Miftahudin)