Oeang Republik Indonesia. Foto: Dok. DJKN
Mengenal Pecahan Uang Rupiah Lintas Era, dari ORI hingga Emisi 2022
Angel Rinella • 18 October 2026 12:44
Jakarta: Hari Oeang Republik Indonesia diperingati setiap 30 Oktober untuk mengenang penerbitan Oeang Republik Indonesia (ORI) pada 1946. Kehadiran ORI menjadi simbol kedaulatan sekaligus langkah awal pemerintah membangun sistem keuangan nasional setelah kemerdekaan.
Mengutip laman resmi Kementerian Keuangan, sebelum ORI beredar masyarakat masih menggunakan mata uang peninggalan Belanda dan Jepang. Pemerintah kemudian membentuk panitia pencetakan uang kertas ORI di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan A.A. Maramis pada 7 November 1945.
Setelah melalui proses pencetakan dan menghadapi berbagai kendala keamanan, ORI resmi beredar sebagai alat pembayaran yang sah pada 30 Oktober 1946. Penerbitan mata uang sendiri menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menegaskan kedaulatan Indonesia setelah merdeka.
Seiring waktu, sistem mata uang Indonesia terus berkembang, termasuk setelah Bank Indonesia (BI) berdiri sebagai bank sentral pada 1953. Perubahan tersebut terlihat dari nominal, desain, bahan, hingga teknologi pengamanan uang rupiah.
Lantas, bagaimana perkembangan pecahan uang rupiah dari masa ke masa? Berikut penjelasannya.
Oeang Republik Indonesia. Foto: Kementerian Keuangan
Mengenal Pecahan Uang Rupiah dari Masa ke Masa
Uang rupiah mengalami perubahan desain, nominal, dan teknologi pengamanan sejak pertama kali diterbitkan setelah Indonesia merdeka. Perubahan tersebut mengikuti perkembangan zaman sekaligus menampilkan sejarah, tokoh nasional, kekayaan alam, dan budaya Indonesia.
Perjalanan uang rupiah dimulai dari ORI pada masa awal kemerdekaan hingga uang rupiah yang digunakan saat ini. Berikut perkembangan pecahan uang rupiah dari masa ke masa.
1. ORI I (1945)
ORI I menjadi seri pertama uang Republik Indonesia yang resmi beredar pada 30 Oktober 1946. Uang ini memiliki desain sederhana dengan warna dominan hijau, ungu, dan cokelat karena keterbatasan teknologi pencetakan pada masa itu.Seri ORI I terdiri dari delapan pecahan, yaitu 1 sen, 5 sen, 10 sen, setengah rupiah, Rp1, Rp5, Rp10, dan Rp100. Pada bagian depan uang terdapat tulisan “tanda pembajaran jang sah”, sedangkan bagian belakang memuat keterangan terkait dasar hukum penerbitannya.
2. ORI II (1947)
ORI II diterbitkan pada 1947 dengan empat pecahan, yakni Rp5, Rp10, Rp25, dan Rp100. Seri ini menampilkan desain yang lebih beragam melalui motif padi, pemandangan, serta gambar tokoh nasional.Pada uang seri ini tercantum tulisan “Djokjakarta 1 Djanuari 1947” dan tanda tangan Menteri Keuangan Sjafruddin Prawiranegara. Pencantuman tersebut menjadi salah satu ciri yang membedakan ORI II dari seri sebelumnya.
3. ORI III (1947)
ORI III juga diterbitkan pada 1947 dengan pilihan nominal yang lebih beragam dibandingkan seri kedua. Pecahannya berkisar dari setengah rupiah hingga Rp250.Salah satu uang yang dikenal di kalangan kolektor ialah pecahan Rp100 bergambar A.A. Maramis. Kelangkaan sejumlah uang dari periode tersebut membuatnya memiliki nilai historis dan menarik perhatian kolektor numismatik.
4. ORI IV (1948)
ORI IV hadir pada 1948 ketika Indonesia masih menghadapi situasi politik dan keamanan yang sulit. Seri ini mencakup sejumlah pecahan, termasuk Rp0, Rp75, Rp100, dan Rp400.Selain uang yang diterbitkan, terdapat desain pecahan Rp600 yang dikenal berstatus unissued atau tidak diedarkan. Status tersebut membuatnya berbeda dari uang yang benar-benar digunakan sebagai alat pembayaran dan menjadi perhatian kolektor.
Baca Juga :
Daftar Koleksi Uang di Museum Bank Indonesia
5. Uang Rupiah Seri Sudirman (1968)
Memasuki masa pemerintahan Orde Baru, BI menerbitkan uang rupiah seri Sudirman pada 1968. Seri ini menampilkan Jenderal Sudirman dan terdiri dari 11 pecahan, mulai dari Rp1 hingga Rp10.000.Uang tersebut ditandatangani Gubernur BI Radius Prawiro dan Direktur BI Soeksmono B. Martokoesoemo. Peredarannya dimulai pada 8 Januari 1968, sedangkan pada 23 Agustus 1971 pemerintah melakukan devaluasi rupiah sebesar 10 persen.
6. Uang Rupiah Emisi 1975
Pada 1975, BI menerbitkan uang rupiah dengan desain berbeda pada setiap nominal. Ilustrasinya menampilkan tokoh sejarah, kehidupan masyarakat, dan warisan budaya Indonesia.Uang keluaran periode ini ditandatangani Gubernur BI Rachmat Saleh dan Direktur BI Soeksmono B. Martokoesoemo. Perbedaan ilustrasi pada setiap nominal membantu masyarakat mengenali uang yang digunakan.
Beberapa desain uang rupiah yang diterbitkan pada periode tersebut meliputi:
- Rp1.000: menampilkan Pangeran Diponegoro.
- Rp5.000: menampilkan ilustrasi nelayan.
- Rp10.000: menampilkan Candi Borobudur.
7. Uang Rupiah Emisi 1992
BI kembali menerbitkan uang rupiah dengan desain baru pada 1992. Uang tersebut memiliki perpaduan warna dan ilustrasi yang menggambarkan kekayaan alam, budaya, serta tokoh Indonesia.Uang emisi 1992 mulai digunakan sebagai alat pembayaran pada 28 Desember 1992. Setiap nominal menampilkan ilustrasi berbeda yang mencerminkan keberagaman Indonesia, di antaranya:
- Rp100: perahu pinisi.
- Rp500: orangutan.
- Rp1.000: Danau Toba.
- Rp5.000: alat musik Sasando.
- Rp10.000: Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
- Rp20.000: burung cenderawasih merah.

8. Uang Rupiah Rp50.000 Emisi 1993
Pada 1993, BI menerbitkan uang kertas pecahan Rp50.000 yang menampilkan Presiden Soeharto pada bagian depan. Penerbitan ini menjadi salah satu bagian dari perkembangan desain uang rupiah pada masa Orde Baru.Uang tersebut menggunakan bahan plastik polymer dan dilengkapi fitur pengamanan berupa hologram. Penggunaan bahan dan fitur tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan perlindungan terhadap pemalsuan uang.
9. Uang Rupiah Masa Reformasi (1999)
Pada masa Reformasi, desain uang rupiah tampil dengan warna dan ilustrasi yang lebih beragam. Salah satu perubahan penting ialah penerbitan pecahan Rp100.000 yang menjadi nominal tertinggi dalam seri uang kertas tersebut.Pecahan Rp50.000 menampilkan I Gusti Ngurah Rai, sedangkan Rp100.000 menampilkan Soekarno dan Mohammad Hatta bersama teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Uang Rp100.000 emisi 1999 menggunakan bahan plastik polymer dan dicetak di Australia serta Thailand.
10. Uang Rupiah Tahun Emisi 2016
Pada 19 Desember 2016, pemerintah bersama BI meluncurkan desain baru uang rupiah yang terdiri dari tujuh pecahan uang kertas dan empat pecahan uang logam. Seri ini menampilkan 12 pahlawan nasional yang ditetapkan melalui keputusan presiden.Tokoh yang ditampilkan antara lain Tjut Meutia, Frans Kaisiepo, dan Ir. H. Djuanda Kartawidjaja. Perbedaan warna dan gambar pada setiap nominal juga membantu masyarakat mengenali nilai uang.
Pada 2020, pemerintah dan BI turut menerbitkan uang khusus pecahan Rp75.000 untuk memperingati 75 tahun kemerdekaan Indonesia. Uang tersebut menjadi penerbitan khusus yang menarik perhatian masyarakat dan kolektor.
11. Uang Rupiah Tahun Emisi 2022
BI meluncurkan uang rupiah kertas Tahun Emisi 2022 pada 18 Agustus 2022. Penerbitan tersebut mencakup tujuh pecahan, yaitu Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000, dan Rp100.000.Desain uang baru mempertahankan warna dasar yang sudah dikenal masyarakat, tetapi dilengkapi penguatan unsur pengamanan. Gambar pahlawan nasional pada bagian depan dan ilustrasi budaya Indonesia pada bagian belakang tetap menjadi ciri utama setiap pecahan.
Berikut pembaruan pada uang TE 2022:
- Warna lebih tajam: membantu masyarakat mengenali perbedaan nominal.
- Fitur pengamanan yang diperkuat: mendukung upaya pencegahan pemalsuan.
- Ukuran uang berbeda: nominal lebih kecil memiliki ukuran fisik lebih kecil sehingga membantu identifikasi melalui sentuhan.
Rupiah berkembang dari alat pembayaran pada awal kemerdekaan menjadi uang dengan desain dan teknologi pengamanan modern. Rupiah juga menjadi simbol identitas nasional dan perjalanan sejarah Indonesia.
