Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: Dok Kemenko Perekonomian
Airlangga Pastikan Pemerintah Monitor Dampak Gejolak Global ke Rupiah
Eko Nordiansyah • 23 April 2026 14:39
Jakarta: Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai nilai tukar rupiah yang melemah hari ini dipengaruhi oleh gejolak global.
“Ya, kan, itu lihat gejolak, gejolak global juga (jadi pengaruh utama). Jadi, ya, kita monitor saja,” kata Menko Airlangga saat ditemui di Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI, Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 23 April 2026.
Adapun nilai tukar rupiah pada Kamis pagi melemah 108 poin atau 0,63 persen menjadi Rp17.289 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per USD.
Lebih lanjut, Airlangga mengatakan, pemerintah terus melakukan peninjauan lebih lanjut agar dapat menemukan antisipasi, mengingat asumsi nilai tukar rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran (TA) 2026 adalah Rp16.500 per dolar AS.
“Kita monitor saja, karena ini kan gak bisa kita setiap hari reaktif. Kita monitor saja, dan itu BI (Bank Indonesia) tugasnya menjaga,” ujar Airlangga.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani)
Ketegangan AS-Iran jadi penyebab
Di sisi lain, Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan, pelemahan rupiah dipicu ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran yang mendorong kenaikan harga energi.“Konflik di Timur Tengah khususnya ketegangan antara AS dan Iran mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” ucapnya kepada Antara.
Melihat dari sisi domestik, lanjut dia, keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen mencerminkan fokus pada stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.
Untuk meredam volatilitas, BI disebut juga menaikkan ambang batas transaksi DomesticNon-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari sebelumnya 5 juta dolar AS menjadi USD10 juta per transaksi.
BI juga menyampaikan bahwa kebijakan ini bertujuan mengurangi tekanan di pasar spot valuta asing sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
“Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, arah kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas bauran kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan,” ujar dia.