Prajurit TNI Terobos Medan Ekstrem Evakuasi Korban Pembunuhan di Yahukimo

Koops TNI Habema mengevakuasi korban kekerasan di Yahukimo, Papua Pegunungan. (Dokumentasi/ Istimewa)

Prajurit TNI Terobos Medan Ekstrem Evakuasi Korban Pembunuhan di Yahukimo

Silvana Febiari • 29 July 2026 16:11

Mimika: Prajurit TNI dari Satuan Tugas Habema menembus pegunungan terjal sejauh puluhan kilometer di tengah cuaca ekstrem. Mereka juga harus berhadapan langsung dengan kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) demi menjalankan misi kemanusiaan, yakni mengevakuasi jenazah warga sipil Orang Asli Papua (OAP) yang menjadi korban pembunuhan di Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.

Panglima Komando Operasi TNI Habema, Mayjen TNI Yudha Airlangga, menjelaskan proses pencarian diawali dengan ditemukannya jejak darah yang mengarah ke lokasi para korban. 

"Kami menemukan jejak darah terlebih dahulu, kemudian menelusurinya hingga mengarah ke lokasi korban. Saat proses penyisiran berlangsung sekitar pukul 11.20 hingga 11.40 WIT, pasukan kami mendapat perlawanan dari kelompok bersenjata OPM hingga terjadi kontak tembak. Mereka sudah menunggu kami, namun seluruh personel mampu mengantisipasi situasi tersebut sehingga misi kemanusiaan tetap dapat dilanjutkan," kata Yudha di Mimika, Rabu, 29 Juli 2026. 
 


Misi tersebut tidak berlangsung dengan mudah. Lokasi kejadian berada sekitar 65 kilometer dari pusat Kabupaten Yahukimo. Kondisi geografis didominasi pegunungan terjal dan akses yang sangat terbatas. 

Meski dihadapkan pada medan yang berat dan berbagai tantangan di lapangan, prajurit TNI tetap melakukan penyisiran secara bertahap. Mereka memastikan seluruh korban dapat ditemukan dan dievakuasi dengan layak.

Setelah situasi berhasil dikendalikan, prajurit TNI menemukan dan mengevakuasi dua jenazah korban yang diketahui merupakan pasangan suami istri, yakni Yentinus Kogoya alias Kumis Kogoya dan istrinya, Pam Wendakwe. Sementara itu, satu korban lainnya, seorang perempuan dari Suku Unaukam, masih dalam proses pencarian. Identitas lengkap korban juga masih didalami oleh aparat.

Yudha menegaskan keselamatan warga sipil selalu menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan tugas. "Sebagai seorang prajurit, kami sudah memahami setiap risiko dalam menjalankan tugas. Namun, ketika yang kami hadapi adalah warga sipil yang menjadi korban kekerasan, kami tidak bisa tinggal diam," ujarnya. 

Ia menjelaskan medan yang dilalui sangat berat dengan cuaca yang tidak bersahabat. Di tengah perjalanan, prajurit TNI juga sempat mendapat perlawanan dari kelompok bersenjata. 

"Tidak ada satu pun prajurit yang mundur. Prioritas kami hanya satu, memastikan para korban dapat dievakuasi dan kembali kepada keluarganya dengan layak. Tidak boleh ada rasa takut yang mengalahkan nilai kemanusiaan," jelasnya. 
 

Koops TNI Habema mengevakuasi korban kekerasan di Yahukimo, Papua Pegunungan. (Dokumentasi/ Istimewa)


Saat ditemukan, kondisi kedua jenazah sangat memprihatinkan dan menunjukkan adanya tindakan yang tidak manusiawi. Setelah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian, kedua korban dibawa ke RSUD Dekai sekitar pukul 14.30 WIT untuk menjalani proses visum sebelum diserahkan kepada pihak keluarga dan pihak berwenang. 

Proses evakuasi tersebut dipantau langsung oleh Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, sebagai bentuk perhatian terhadap penanganan para korban.

Dalam kesempatan yang sama, Yudha turut membantah tegas narasi yang disebarkan kelompok OPM yang menyebut para korban merupakan bagian dari intelijen TNI. Menurutnya, tudingan tersebut sama sekali tidak berdasar dan hanya memperkeruh situasi. 

Ia menegaskan para korban adalah warga sipil Orang Asli Papua (OSP) yang menjadi korban tindak kekerasan. Mereka berhak memperoleh perlindungan, penghormatan, dan penanganan yang layak sebagai sesama anak bangsa.

Di balik keberhasilan operasi tersebut, tersimpan dedikasi dan pengorbanan para prajurit yang rela mempertaruhkan keselamatan demi menunaikan misi kemanusiaan. Menembus medan ekstrem, menghadapi cuaca yang tidak menentu, hingga tetap bertahan di bawah ancaman kelompok bersenjata, mereka membuktikan bahwa kehadiran TNI di Papua tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga memastikan setiap warga yang menjadi korban dapat memperoleh pertolongan. 

Bagi Satgas Habema, setiap nyawa masyarakat Papua adalah amanah yang harus diperjuangkan. Selama masih ada warga yang membutuhkan bantuan, prajurit akan terus hadir di garis terdepan, apa pun risiko yang harus dihadapi.

(Silvana Febiari)