Emas Kehilangan Daya Tarik, Diproyeksi Turun ke USD4.304

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Emas Kehilangan Daya Tarik, Diproyeksi Turun ke USD4.304

Eko Nordiansyah • 20 May 2026 14:12

Jakarta: Harga emas dunia diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, seiring dominasi sentimen bearish yang semakin kuat baik dari sisi teknikal maupun fundamental.

Berdasarkan analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh analis Geraldo Kofit, pergerakan XAU/USD pada timeframe harian (daily) menunjukkan kecenderungan penurunan yang solid, dengan peluang pelemahan lanjutan dalam jangka menengah.

Secara teknikal, Geraldo Kofit menjelaskan bahwa harga emas telah menembus area support penting yang sebelumnya berada di kisaran USD4.604 hingga USD4.538. Penembusan ini menjadi sinyal kuat bahwa tren turun semakin terkonfirmasi, sekaligus mengubah area tersebut menjadi resistance baru.

"Dalam kondisi seperti ini, setiap kenaikan harga cenderung berpotensi terbatas dan lebih rentan dimanfaatkan sebagai peluang jual oleh pelaku pasar," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 20 Mei 2026.

Lebih lanjut, analisis menggunakan Fibonacci Retracement dari secondary trend menunjukkan bahwa target penurunan berikutnya berada pada level ekstensi 161,8 persen, yang bertepatan dengan harmonic level di area 4.304 dolar AS. Level ini dinilai sebagai target potensial apabila tekanan jual terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.

"Struktur pergerakan harga yang terbentuk juga memperlihatkan pola lower high dan lower low, yang merupakan ciri khas dari tren bearish yang kuat," ujarnya.

Tekanan jual yang belum mereda

Dari sisi indikator, stochastic saat ini masih berada di area oversold atau jenuh jual. Meski secara teori kondisi ini dapat membuka peluang terjadinya rebound teknikal, Geraldo menilai, dalam konteks tren yang kuat, indikator oversold justru mencerminkan dominasi tekanan jual yang belum mereda.

"Dengan kata lain, belum terlihat adanya sinyal pembalikan arah yang signifikan pada timeframe harian," katanya.

(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Sementara itu, tekanan terhadap harga emas juga diperkuat oleh faktor fundamental global. Kuatnya dolar AS serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat menjadi faktor utama yang mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen investasi.

"Dalam kondisi suku bunga yang tinggi, investor cenderung beralih ke aset berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga," jelas Geraldo.

Ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed

Pelaku pasar saat ini memperkirakan bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, terutama jika data ekonomi tetap solid, khususnya dari sektor tenaga kerja dan inflasi. Kondisi ini memberikan dukungan tambahan bagi penguatan dolar AS, yang secara historis memiliki korelasi negatif terhadap pergerakan harga emas.

Di sisi lain, stabilnya sentimen pasar global juga berkontribusi terhadap menurunnya permintaan emas sebagai aset safe haven. Ketika optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi dan pasar saham meningkat, aliran dana cenderung berpindah ke instrumen berisiko yang menawarkan potensi keuntungan lebih tinggi.

"Hal ini semakin menekan harga emas di tengah minimnya katalis positif yang dapat mendorong kenaikan," kata Geraldo.

Selain itu, aksi profit taking yang dilakukan oleh pelaku pasar setelah penurunan sebelumnya juga mempercepat tekanan jual. Spekulasi bahwa tren bearish masih akan berlanjut semakin menguat setelah harga menembus level support kunci, yang kini berubah menjadi resistance.

"Kombinasi antara faktor teknikal dan fundamental ini memperbesar peluang bagi emas untuk melanjutkan pelemahan dalam waktu dekat," ujar dia.

Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa harga emas masih berpotensi bergerak turun menuju area 4.304 dolar AS sebagai target berikutnya. Selama harga tetap berada di bawah area resistance 4.604–4.538 dolar AS dan tidak ada perubahan signifikan dari sentimen pasar, tren bearish diperkirakan akan tetap mendominasi.

"Investor disarankan untuk tetap waspada dan memperhatikan perkembangan data ekonomi serta arah kebijakan moneter global yang dapat memengaruhi pergerakan harga emas ke depan," ungkapnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)