Kemenkeu: Indonesia Berpotensi Dapat 'Durian Runtuh' Komoditas Imbas Krisis Global

Direktur Jenderal Strategi dan Ekonomi Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu. Foto: Metrotvnews.com/Richard Alkhalik.

Kemenkeu: Indonesia Berpotensi Dapat 'Durian Runtuh' Komoditas Imbas Krisis Global

Richard Alkhalik • 9 April 2026 22:17

Jakarta: Eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu volatilitas pasar dan melambungkan harga komoditas global. Menyikapi situasi ini, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memproyeksikan adanya windfall (durian runtuh) atau potensi tambahan penerimaan negara yang bersumber dari sektor Sumber Daya Alam (SDA).

Direktur Jenderal Strategi dan Ekonomi Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan penerimaan negara dari sektor SDA diproyeksikan meningkat. Lonjakan tersebut terdorong oleh tren kenaikan harga komoditas global seperti batu bara, baja, nikel, dan tembaga.

"Tanpa ada perubahan kebijakan, itu membuat penerimaan kita pasti akan meningkat," kata Febrio di Auditorium Bakom RI, Jakarta Pusat, Kamis, 9 April 2026.

Febrio menegaskan, dampak rambatan harga tersebut akan secara otomatis mengerek penerimaan negara, bahkan tanpa adanya perubahan kebijakan dari pemerintah.

Guna mengoptimalkan penerimaan negara dari potensi windfall tersebut, Febrio mengatakan Kemenkeu akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk merumuskan skema kebijakan yang tepat. "Kita sedang pertimbangkan semuanya dengan Kementerian SDM," tutur dia.
 
Baca juga: Tepis Proyeksi Bank Dunia, Pemerintah Pede Ekonomi RI Bisa Melejit hingga 5,5%


(Ilustrasi batu bara. Foto: Freepik)
 

Ekonomi Indonesia bisa tembus 5,5%


Meskipun eskalasi geopolitik global memicu volatilitas harga minyak mentah yang menekan perekonomian nasional, pemerintah tetap optimis laju pertumbuhan ekonomi nasional mampu mencapai level 5,5 persen. Ini sekaligus menepis ramalan Bank Dunia terhadap ekonomi Indonesia untuk tahun ini yang dipangkas menjadi 4,7 persen.

Direktur Jenderal Strategi dan Ekonomi Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan, perkiraan Bank Dunia merupakan hal wajar. Karena pada realisasinya, ekonomi Indonesia justru tumbuh lebih tinggi dari perkiraan.

Sebagai perbandingan, pada tahun sebelumnya Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan Indonesia hanya di angka 4,8 persen, namun realisasinya mampu menyentuh 5,1 persen. Menurut Febrio, proyeksi Bank Dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia justru dinilai sebagai sinyal positif untuk meyakinkan investor dan memastikan masuknya arus modal ke Indonesia dengan cepat.

"World Bank selalu memantau perekonomian kita. Tetapi, estimasi mereka jelas jauh dari di bawah kita. Dan tahun lalu ingat enggak mereka bilang 4,8 (persen) kita jatuhnya 5,1 (persen). Jadi enggak apa-apa," jelas Febrio di Auditorium Bakom RI, Jakarta Pusat, Kamis, 9 April 2026.

Febrio melanjutkan, optimisme menggeliatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bisa mencapai angka 5,5 persen tersebut dilakukan dengan tetap menjaga defisit di sekitar 2,9 persen.

Didorong dengan adanya penguatan dan kontribusi dari beberapa sektor fundamental seperti 50 persen dari biaya konsumsi, belanja pemerintah sekitar 8-9 persen, investasi 30 persen, serta ekspor sekitar 25 persen.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)