Ilustrasi mata uang rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI/Susanto.
Cek Kurs Rupiah Hari Ini: Sentuh Rp17.105/USD di Tengah Konflik Global
Ade Hapsari Lestarini • 13 April 2026 17:12
Jakarta: Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin sore melemah satu poin menjadi Rp17.105 per USD. Angka ini setara 0,01 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.104 per USD.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.122 per USD dari sebelumnya Rp17.112 per USD.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi upaya blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat (AS).
"Dipengaruhi upaya blokade AS, menyusul kegagalan perundingan perdamaian antara AS dan Iran pada akhir pekan lalu," ucap Ibrahim dalam keterangan tertulis, dilansir Antara, Senin, 13 April 2026.
Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan mulai memblokade Selat Hormuz, yang membahayakan gagalnya gencatan senjata dua pekan antara AS dengan Iran.

Ilustrasi mata uang rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI/Susanto.
Blokade semua lalu lintas maritim
Komando Pusat AS mengatakan pasukan AS akan mulai menerapkan blokade semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar pelabuhan Iran mulai pukul 10 pagi ET pada Senin.
Blokade tersebut diberlakukan secara imparsial terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.
Sebaliknya, Garda Revolusi Iran mengatakan setiap kapal militer yang mencoba mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan ditindak dengan keras dan tegas.
Di sisi lain, Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai level 5,2 persen pada 2026, lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan pada tahun lalu yang sebesar 5,1 persen, tetapi lebih rendah dari target pemerintah (5,4 persen).
"Proyeksi tersebut masih dalam rentang target inflasi Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5±1 persen," ungkap Ibrahim.